Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 November 2010

DIRUANGI HUJAN


DIRUANGI HUJAN

Hujan sudah hampir satu jam. Deras. Kilat bersusulan dengan geledeg. Tanah seperti ditikam-tikam. Setiap tikaman memuncratkan darah coklat. Jalanan kampung kemudian tergenang, menuju banjir. Ini pagi sebenarnya.
Ya, ini pagi sebenarnya, tapi hujan itu sempurna menutupinya. Ibarat tirai penutup kenyataan. Dan kenyataan adalah ruang di balik tirai itu. Ruang yang betul-betul terpisah denganku saat ini. Tapi ada baiknya. Setidaknya hujan membantuku menghilangkan sekat waktu.

Waktu yang terus memburu. Memburuku dengan pisau mengilat di tangannya. Aku seperti tanah yang ditikam oleh hujan itu selama ini. Namun, tidak untuk saat ini karena hujan yang menikam-nikam tanah itu membantuku.
Ini pagi sebenarnya, tapi kelam. Karena hujan itulah pagi ini jadi kelam. Bahkan jadi mencekam. Tak ada seorang pun keluar rumah. Bahkan mungkin semua meneruskan tidur mereka. Bergabung lagi dengan mimpi-mimpi mereka. Namun, tidak denganku karena aku sepertinya harus merayakan terbunuhnya waktu.
Hujan sudah hampir enam jam. Masih deras. Aku masih merasakan betapa waktu telah kalah dan terbunuh. Mungkin sekarang harusnya sudah siang. Mungkin harusnya sekarang seperti siang kemarin saat aku terpanggang waktu, terbungkus debu. Saat aku tertampar-tampar kesempatan. Saat peluh telah menyatu baju melekatkannya pada tubuh ringkih. Saat aku tersaruk pada putus asa.
"Ini dia sampah!"
"Lebih busuk dari sampah!"
"Tak berguna!"
"Kerja, kek... ngapain, kek."
Hujan sudah hampir enam jam dan aku semakin yakin. Sementara itu, sepertinya yang tertidur sudah bangun. Mereka kini ramai menyelamatkan rumah masing-masing. Rumah yang mulai digenangi air. Rumah yang disatroni air. Rumah yang dikuasai air. Mereka seakan telah tak punya kuasa. Mereka hanya berusaha. Mereka terus mengeduk. Mereka berusaha membendung. Mereka bahkan berusaha berteriak-teriak minta tolong. Hujan terus berlangsung. Deras yang konstan diselingi geledeg.
Begitu pun rumahku, tepatnya, gubukku, telah sempurna dimasuki air dari berbagai jalan. Bocoran dan rembesan telah bermuara di ruang tempatku duduk mematung. Pada tanganku sebilah pisau. Aku telah mengasahnya hampir seminggu. Air itu semula hanya aliran kecil. Semula hanya ngeclak sesekali. Dan aku membiarkannya menjadi bah. Dan aku mempersilahkannya menjadi hujan pada hujan pada langit atapku yang bergayut dan kelabu.




Suara-suara ribut di luar sana tak membuatku bergeming. Aku betul-betul telah bulat memasuki sunyi. Ya, aku akan menyempurnakan sunyi duniaku. Setelah satu persatu manusia yang kukasihi luruh seperti kelopak bunga terbadai hujan deras, layaknya saat ini.

Istriku adalah kelopak terakhir yang gugur. Ia meninggalkanku saat aku hampir sebulan memasuki labirin itu. Saat aku berputar-putar pada jalan tak berujung. Saat aku mencari-cari ruh anakku yang direnggut dari kebahagiaan sederhana kami. Tabrak lari!
Suamiku.
Aku pergi. Kita hidup sendiri-sendiri saja. Jika telah siap, pinang aku kembali! Tapi jangan cari diriku sebelum kau menemukanmu.
Istrimu.

Surat istriku di hadapanku sebenarnya, tapi aku tak bisa membacanya lagi. Aliran listrik terputus. Aku hanya bisa mengingatnya. Kata demi kata.

Tiba-tiba tetangga sebelahku berteriak, Azan. Azan dengan sisa-sisa harapan mereka karena air telah menenggelamkan hampir setengah meter, padahal perkampungan ini termasuk berada di dataran agak tinggi. Kini tubuhku pun mulai terendam, tapi pada tanganku sebilah pisau.

"Kau mau apakan aku?"
"Aku mau memakaimu."
"Untuk apa?"
"Untuk membunuhku."
"Pada apa?"
"Pada urat leherku."
"Aku ngak sudi."
"Bukankah kau menginginkanku juga?"
"Enak saja."
"Kau berkilat ketika terbayang olehmu urat leherku?" *)
"Aku berkilat karena cahaya-Nya."
"Ha...ha..ha..ha, antar aku menuju cahaya-Nya, kalau begitu?"
"Kau tidak akan menghampiri Sang Mahacahaya karena kau kini takdicahayai-Nya."
"Ha..ha... pisau sok tahu. Aku tak akan basa-basi lagi."

Aku pun mengantar pisau itu pada urat leherku sendiri. Namun, pisau itu menolak. Aku berkeras. Dengan sekuat tenaga kutarik pisau itu menuju leherku, tapi tetap pisau itu pun bertahan. Bahkan tenaganya begitu kuat. Aku pun memakai dua tanganku untuk menariknya. Entahlah, aku tak habis pikir. Semakin aku berusaha mengeluarkan tenaga semakin kuat pula pisau itu bertahan.Sementara itu, di luar hujan semakin ramai. Ya, suara hujan, suara geledeg, suara azan tetanggaku, dan suara-suara orang meninggalkan rumah-rumah mereka.

Aku justru tengah berjuang. Aku kini bahkan bergumul dengan pisau itu di lantai, di genangan air. Aku ditenggelamkannya agar aku sudi melepaskannya. Jelas aku tak sudi, aku balik membenamkannya ke banjir itu dengan harapan ia akan kehabisan tenaga.

Namun, harapanku tak jua tercapai. Kami sepertinya seimbang. Kami terus bergumul sampai napasku betul-betul habis. Tapi aku takakan melepaskannya. Ini harapan terakhirku untuk menyempurnakan sunyi.

Lelah amat sangat menerpaku. Aku seperti tercekik oleh rasa itu, tapi aku tak mau semua berakhir dalam posisi kalah oleh mata pisau itu. Namun, aku tak mampu. Kini, aku hanya mampu berteriak.

"Aaaaaarrrrrgh... lepaskan aku pisau sialan. Aku telah mengasahmu bukan untuk sebuah pembangkangan."
Senyap. Tapi beberapa saat kemudian aku mendengar tetanggaku berazan kembali. Terus terang aku bosan dengan suara itu.

"Hai,... Juned. Diam kau."

Lalu suara-suara sibuk di luar pun semakin jelas. Kini aku merasakan hening itu pecah. Aku seperti dihubungkan kembali ke dunia bising. Dunia yang tak berjarak dengan diriku sendiri. Dunia yang selama ini justru berusaha kuhindari.

"Biar aku yang menghentikannya."
Tiba-tiba suara merdu itu hadir.
"Istriku?"
"Ya."
"Kau?"
"Ya, aku istrimu."
"Kau...?"
"Ya, aku datang untukmu."

Lalu istriku menghampiriku. Tangannya meraih pisau di tanganku. Aku heran, saat tiba-tiba pisau itu tak melawan. Ia pasrah di tangan lembut istriku. Lalu istriku pun meraihku. Mengangkatku dari rendaman air banjir itu. Aku betul-betul diangkatnya. Saat dia tersenyum sepertinya aku kembali pada diriku sendiri.

"Sudah lepaskan saja." Ujar istriku.

Aku tak mengerti dengan ucapannya.

"Siapa yang harus aku lepaskan?"
"Bukan kamu."

Lalu istriku mengusap mukaku dengan kemesraan yang memang telah melekat padanya. Kemesraan yang menghilang selama ini. Tiba-tiba saja duniaku jadi terang. Hujan berhenti, ruang tempatku berdiri dimasuki cahaya serentak, air banjir yang menggenangi lantai tiba-tiba surut.

Semua menjadi terang kini. Dan, di sekelilingku tetangga-tetanggakku berdiri dengan peluh. Di antara mereka ada Juned yang terus menerus Azan.

***

CINTA MATI TERNYATA ADA




Sudah enam tahun suami Mbok Pinah tergolek sakit di atas ranjang dengan kasur lusuh sebagai alas. Kasur yang begitu lusuh sehingga tak pantas lagi disebut sebagai kasur. Kain kasurnya yang bermotif garis-garis warna biru dan putih itu robek di sana-sini. Sehingga, sesekali ada kapuk keluar dari persembunyiannya.
Tak ada tempat yang lebih lebar lagi selain kasur lusuh itu. Di bawah kolong, sampai seluas-luasnya hingga mencapai bibir daratan, terhampar Pulau Jawa yang sungguh subur. Sebegitu luasnya, namun hanya beberapa ruas kaki yang sanggup dihuni suami Mbok Pinah. Ya, kasur itu hanya seluas dua-tiga ruas kaki orang dewasa saja. Tak lebih.
Mungkin, sepanjang sisa hidupnya dia harus rela menghabiskan di atas kasur itu. Rasanya, ingin sekali dia bangkit dari kasur itu dan kembali mencangkul di sawah. Namun apa yang dapat dikata. Tenaganya terbang entah ke mana.
Enam tahun lalu ketika Wak Suto, suami Mbok Pinah, sedang asyik bekerja -mencangkul- di sawah, secara tiba-tiba tubuhnya tersungkur ke tanah penuh lumpur. Wak Suto kena stroke. Lalu dia dibawa oleh teman-temannya sesama petani pulang ke rumah. Melihat suaminya dalam keadaan tak sadarkan diri, Mbok Pinah juga ikut tersungkur ke tanah, pingsan.
Baru setelah diberi bau-bauan dari minyak kayu putih, Mbok Pinah sadar. Namun, Wak Suto masih memejamkan matanya. Belum juga sadarkan diri. Karena lama tak sadarkan diri, teman-temannya memanggil "orang pinter." Orang itu membacakan mantra-mantra di telinga Wak Suto. Lalu sadarlah Wak Suto. Ketika sadar dari stroke, dia hanya dapat melihat sebuah dunia yang hanya berwarna ungu pekat. Juga merasakan tubuhnya lemas tak bertenaga, sampai sekarang.
Segala sesuatu yang menyangkut kebutuhan Wak Suto selalu dipenuhi dan dilayani sang istri. Mbok Pinah dengan tulus dan ikhlas selalu melayani suaminya yang tergolek sakit. Tak ada hal lain yang dapat dilakukan. Dengan kata lain, dunia Wak Suto hanya seluas dimensi kasur.
Makan, minum, mandi, hingga rutinitas buang air kecil dan besar pun harus dengan pelayanan istrinya. Suap demi suap bubur dengan cermatnya disodorkan ke mulut sang suami. Semua terkesan tulus dan ikhlas. Jika ada bubur yang membelepoti bibirnya, maka dengan hati-hati Mbok Pinah menyeka dengan sapu tangan.
Mereka tinggal berdua di sebuah rumah yang rapuh. Temboknya terbuat dari papan ala kadarnya dan tiang penyangga tua. Sebentar lagi akan roboh jika terserempet puting beliung. Tak ada sesuatu apa pun yang berharga di rumah itu selain setrika listrik yang dibelikan anaknya yang merantau di Surabaya. Padahal, di rumahnya tak ada listrik. Walaupun, listrik sudah masuk desa dan dapat dinikmati penduduk.
Kedua anaknya pergi meninggalkan emak dan bapaknya. Juga meninggalkan Desa Karangwungu yang membesarkannya. Hanya uang dan uang yang datang menjenguk Mbok Pinah dan suaminya. Uang yang tak cukup untuk menyambung hidup. Sudah dua kali Idul Fitri anaknya tak juga pulang dan menjenguk orang tuanya yang sakit. Ingin sekali orang tua itu melihat kedua anak perawannya pulang ke rumah. Memeluknya dengan cinta dan kasih sayang yang hangat. Namun, semua itu kini hanya menjadi awang-awang. Mereka lelah menantikan kedua anak perawannya yang mencari uang di Surabaya.
Untuk membuat dapurnya tetap mengepul, Mbok Pinah bekerja sebagai pencari kayu bakar. Tempatnya di hutan yang cukup jauh dari Desa Karangwungu. Kayu bakar itu dijual kepada penduduk kampung sebelah. Untuk dapat mencapai hutan itu, dia harus berjalan menyusuri rawa-rawa dengan gestur tanah yang gembur. Juga, masih ada bengawan atau sungai. Penyebutan itu mungkin timbul karena aliran sungai juga merupakan aliran anak Sungai Bengawan Solo. Selain mencari kayu bakar, Mbok Pinah juga membuat arang dari batok kelapa. Nantinya, arang itu dijual kepada pedagang sate yang tersebar di sekitar Telon Semlaran, Lamongan.
Kesulitan dan kerasnya hidup tak membuatnya menyerah. Dia masih semangat menyongsong hari esok. Dari raut wajahnya yang keriput, masih terlihat jelas bara api yang menyala-nyala. Sisa-sisa kecantikannya masih tampak meskipun keriput tersebar di sana-sini. Umurnya yang sekitar 60 tahun bukan halangan untuk tetap menerobos kejamnya kehidupan.
Tak ada sesal sedikit pun di wajahnya mengenai nasib bersuami lelaki tua yang lumpuh. Dia masih tegar dan setia kepada sang suami. Bukan karena hasratnya yang kalah oleh umur, namun karena kesetiaan yang sampai pada tahap ma’rifat.
Suatu hari, Wak Suto mengalami kejang-kejang yang sungguh dahsyat. Hingga ranjang yang menahan berat tubuhnya serasa mau ambruk. Serentak rumah mereka didatangi oleh para tetangga yang datang memastikan kabar itu. Salah seorang di antara tetangga itu kembali memanggil "orang pinter."
Orang yang sama seperti enam tahun lalu ketika Wak Suto tak sadarkan diri akibat stroke. Sama seperti enam tahun lalu, "orang pinter" itu kembali membacakan mantra-mantra yang ditujukannya pada telinga Wak Suto.
Kali ini mantranya tak semanjur enam tahun yang lalu. Wak Suto masih kejang-kejang. Karena mantranya gagal, dia pun kembali mengulangi pembacaan mantra dengan suara agak keras. Namun, tetap dengan nuansa mistis dan khidmat. Kejang Wak Suto pun sedikit reda. Kecemasan dan kesedihan Mbok Pinah ikut-ikutan reda. Setelah seluruh kejang Wak Suto mereda, dia pun mengeluarkan suara. Suara yang terdengar berat.
"Pinah, istriku, jika aku mati…" suaranya terhenti sejenak. Dia mengumpulkan tenaga untuk meneruskan suaranya. "Jika aku mati, hendaklah engkau menyusulku. Percuma engkau hidup, anak-anak kita tak akan peduli pada orang tuanya yang telah melahirkan dan membesarkannya."
Tak hanya Mbok Pinah, para tetangga pun kaget mendengar perkataan Wak Suto. Lalu Wak Suto meneruskannya. "Aku ngomomg begini bukan karena kedonyan. Tapi aku merasa itulah yang terbaik untukmu, juga untuk kita," ujarnya. Tak ada yang menanggapi. Semua yang mendengarkan hanya membisu dan mematung.
Air mata meleleh lembut dari mata Mbok Pinah. Selembut hatinya merelakan kepergian sang suami untuk selamanya. Arwah Wak Suto terbang entah ke mana. Yang tinggal hanya jasad yang kurus kering tergolek di kasur lusuh itu. Tugasnya untuk melihat dunia dan "numpang minum" telah selesai dijalani.
Mendengar kematian Wak Suto, hampir seluruh penduduk kampung memberikan seserahan apa adanya. Ada yang memberikan gula, ketan, kopi, beras, juga ada yang memberikan uang kepada janda baru itu, Mbok Pinah. Tak heran bila penduduk kampung begitu solidaritas kepada sang kawan yang pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.
Wak Suto terkenal baik dan ramah. Tak ada satu musuh pun yang dimiliki. Justru kawan yang banyak. Bahkan, dari kampung sebelah pun dia juga banyak memiliki kawan.
Prosesi pemandian dan penguburan Wak Suto telah menyedot perhatian seluruh penduduk kampung. Seluruh warga bergotong royong mengantarkan kepergian Wak Suto ke tempat pengistirahatan yang terakhir. Juga malam harinya, tahlil untuk mengiringi kepergiannya dihadiri oleh penduduk kampung dan para sesepuh serta petinggi desa. Para tetangga perempuan sibuk di dapur membuat dan menyuguhkan makanan untuk para jamaah tahlilan. Semua biaya untuk melakukan hajatan itu didapati dari para tetangga-tetangga. Mbok Pinah tak sedikit pun mengeluarkan uang. Bukan karena tak punya uang, namun karena rasa kekeluargaan yang begitu luhur di antara penduduk desa.
Tahlilan sudah sampai pada malam ketiga. Namun, kedua anak perawannya tak juga kunjung pulang. Padahal, mereka sudah dikirimi kabar melalui SMS oleh petinggi desa. SMS itu juga telah dibalas oleh mereka.
"Kami akan segera pulang. Secepatnya." Begitulah balasan yang diterima petinggi desa dari kedua anak perawan Mbok Pinah dan almarhum Wak Suto. Kata "secepatnya" adalah penekanan bahwa mereka pasti datang dengan segera. Namun, hingga hari ketiga tahlilan mereka tak juga pulang ke rumah.
Malam ketiga tahlilan itu membukakan mata dan hati para penduduk kampung. Mereka menyaksikan sebuah peristiwa yang sungguh menyentuh lubuk hati sedalam-dalamnya. Mbok Pinah yang juga ikut membacakan tahlil dengan lembut pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Mbok Pinah pergi untuk selamanya dengan keadaan duduk sambil memegang buku tahlilan.
Menyaksikan kejadian itu aku hanya bisa duduk bersila mematung. Nagasari yang tinggal satu gigitan lagi tak juga aku makan. Aku diliputi rasa merinding sedalam-dalamnya. Alam pikiranku mengembara pada peristiwa ketika ajal menjemput Wak Suto. Di telingaku terngiang-ngiang suara Wak Suto: "Jika aku mati, hendaklah engkau menyusulku."
Amanat Wak Suto sebelum mati telah dilaksanakan oleh istrinya. Mbok Pinah pergi menyusul. Kini mereka kembali bertemu. Hidup bersama kembali. Penuh kedamaian. Semoga. Suara Wak Suto yang terngiang di telingaku telah hilang ditelan hiruk-pikuk yang menyelimuti rumah itu. Salah seorang sesepuh desa yang duduk di sebelahku mengeluarkan suara. Suaranya terdengar lirih namun penuh keyakinan.
"Ternyata… di dunia yang penuh dengan kepura-puraan ini, cinta mati benar-benar ada…"

cinta




PISAU lipat itu bergetar di genggamanku.Ah,pasti karena denyut jantungku yang kian kencang, seperti pegas di ambang retas. Pisau itu baru kubeli di toko kecil tak jauh dari rumahku.
Hijau pupus warna tangkainya—seperti warna gaun kesukaannya, entah dari bahan apa,dan kecil saja ukurannya.Harganya pun tak seberapa.Dalam keadaan terlipat, palingpaling lima sentimeter panjangnya.Dalam keadaan terbuka,tajam ujungnya berkilat tatkala memantulkan cahaya. Kalau kita berkaca,akan tampak wajah kita yang sebenarnya: mengerikan seperti denawa.
Tiap malam, keletak-keletuk sepatunya yang beradu dengan lapisan beton jalan gang kompleks perumahan memukulmukul keheningan.Memukul-mukul jantung. Mula-mula samar, seperti ketukan ujung jari di tembok, makin lama makin nyaring. Iramanya selalu sama. Seperti nyanyian dua per dua, dengan tempo alegro. Selalu ingin kusibakkan tirai jendela, kuintip remang jalan di muka, dan kunikmati sumber bunyi yang menggetarkan lebih dari komposisi Tchaikovski.Bila perlu,akan kubuka pintu kamarku, lalu keluar dan kutunggu dia di pintu pagar.Akan kusapa dia dengan ucapan selamat malam. Dan aku yakin dia akan menoleh dengan senyumnya yang paling mendebarkan. Udara akan tersaput dengan harum magnolia. Seandainya waktu berkurang lima atau enam tahun, aku bahkan akan menunggunya di ujung jalan.
Aku akan menyapanya dengan segala kesopanan.Aku yakin dia akan menarik bibir merahnya dengan senyuman yang ramah.Kalaupun tidak, dia tentu akan menjawab sapaanku dengan lirik mata yang mendebarkan atau suara yang mendesis seperti bisik angin. Kalaupun tidak juga, aku akan memaksanya berjalan merendenginya di sepanjang gang yang sunyi.Bila perlu merangkulkan tanganku di pundaknya. Tapi sampai ketukan itu larut di udara malam, aku masih terempas dalam kesunyian yang makin mengimpit.
Aku hanya bisa membelai permukaan bilah pisauku, pelan-pelan dari pangkal, dan aku merasainya seakanakan jemariku menyusuri permukaan punggungnya—duhai, aku bahkan belum tahu namanya. Tak lama lagi dia, setelah lelah sejak sore menghibur para lelaki yang kelelahan, akan sampai di rumahnya. Tepatnya, salah satu kamar di rumah mewah hampir di ujung jalan. Dia akan membuka pagar besi rumah itu, lalu akan terdengar derit yang menyilet hening, membuka kunci pintu samping,menutupnya kembali,berjalan menaiki tangga,dan membuka pintu kamar depan di lantai dua.Ketika pintu terbuka, pasti akan meruap wangi yang tak kalah segar dari dalam kamar.
Mungkin dia akan langsung merebahkan tubuh rampingnya di kasur yang empuk dengan seprai merah muda yang harum.Mungkin juga dia akan membuka dulu bajunya, mengambil handuk, lalu membasuh tubuh telanjangnya dengan air yang sejuk. Setelah itu, akan ia kenakan gaun tidur hijau pupus yang lembut.Sama lembutnya dengan hijau tangkai pisauku. Dia pasti sangat menyukai warna hijau.Gaun hijau sutra itu halus dan tipis sehingga akan menerawangkan warna kulitnya yang pualam dan bentuk tubuhnya yang mengingatkanku pada sosok Dewi Supraba.
II

OH, kenapa kamu selalu gelisah, lelaki? Kamu ingin keluar mencegat perempuan malam itu? Keluarlah. Muncratkan semua kepenatan dalam dadamu. Aku tak ingin menjadi penjara bagimu. Kalau kauanggap bahwa apa yang ada dalam pikiranmu akan membuatmu menjadi laki-laki, ayolah kumpulkan keberanianmu, buka pintu hati-hati supaya kamu yakin tak akan membangunkanku.
Dan aku tak akan membuka mata seandainya pun aku bangun dan mengetahuinya. Bukalah pintu, menyelinaplah keluar seperti kucing. Bukankah laki-laki itu memang kucing? Tutup lagi pintu.Kalau perlu, kuncilah dari luar biar aku terkurung di dalam, dalam ketidaktahuan— setidaknya tidak tahu menurut anggapanmu. Senyampang keletak-keletuk suara sepatunya masih menggema di telinga, keluarlah melalui pintu muka.Sapalah dia dengan segala kesopanan.
Aku yakin dia akan menarik bibir merahnya dengan senyuman yang ramah. Kalaupun tidak, dia akan menjawab sapaanmu dengan lirik mata yang mendebarkanmu atau suara yang mendesis seperti bisik angin. Tapi, kalaupun tidak juga, jangan memaksanya berjalan merendenginya di sepanjang gang yang sunyi, apalagi merangkulkan tanganmu di pundaknya. Pasti dia terlalu lelah karena sejak sore menghibur para lelaki yang kelelahan.
Temani saja sampai rumahnya.Tepatnya,salah satu kamar di rumah mewah hampir di ujung jalan. Bukakan pagar besi rumah itu, hati-hati, pasti akan terdengar derit yang menyilet hening. Antar dia membuka kunci pintu samping, menutupnya kembali, berjalan menaiki tangga, dan membuka pintu kamar depan di lantai dua.Kamu pasti akan suka karena ketika pintu terbuka,akan meruap wangi yang tak kalah menyegarkan dari dalam kamar. Kamu pasti akan lebih suka kalau dia akan langsung merebahkan tubuh rampingnya di kasur yang empuk dengan seprai merah muda yang harum, apalagi kalau dia membuka dulu bajunya,mengambil handuk,lalu membasuh tubuh telanjangnya dengan air yang sejuk. Bukankah kamu selalu membayangkan indahnya pemandangan itu? Hei, kamu masih gelisah di sini, lelaki?
III

Keletak-keletuk bunyi sepatuku yang beradu dengan lapisan beton memukul-mukul hening malam. Dan memukul-mukul dadaku.Aku seperti menjadi manusia soliter, sendirian hidup ketika alam semesta tidur.Dan sebentar pagi aku akan menjadi satusatunya manusia yang mati ketika alam semesta hidup disiram matahari.
Oh, tidak, aku yakin, di sebuah kamar, seorang lelaki tengah gelisah. Hampir tiap malam aku merasakan sepasang mata memandang dari kegelapan seperti hendak menelanku. Aku tak pernah melihat mata itu.Tapi aku merasakan sorotnya, seperti sepasang garis sinar sejajar yang memancar dari sudut malam yang pudar. Dasar lelaki, ayolah sibakkan tirai jendelamu, intiplah keremangan jalan ini. Akan lebih baik lagi kalau kau tidak terus-menerus sembunyi, tapi bukalah pintu kamarmu, lalu keluar dan menungguku di pintu pagar. Sapalah aku dengan ucapan selamat malam.
Atau selamat pagi. Aku akan menoleh sambil kuberikan sisa senyumku. Tapi sampai kulewati kamarmu yang temaram,aku hanya menjumpai kesunyian yang makin mengimpit. Aku memang lelah karena sejak sore menghibur para lelaki yang mengaku kelelahan. Namun aku senang melakukannya karena dengan demikian aku menjadi makin tahu bahwa semua lelaki memang tolol. Mereka saling berebut kekayaan sepanjang siang seperti binatang yang berebut makanan, hanya untuk dibuang dalam beberapa kejapan malam harinya, dengan alasan untuk mengusir kelelahan. Ah, ayolah, lelaki, bukankah kamu sama dengan semua lelaki itu?
IV

AH,perempuan,maafkan aku.Kau terlalu indah, karena itu izinkan aku melukis tubuhmu, untuk bisa kunikmati sendiri lukisannya.Kamu terlalu indah untuk juga dimiliki lelaki lain. Telah kusiapkan kuas yang khusus. Ujungnya memang tajam mengilat, dan tak perlu cat jenis apa pun untuk melukis tubuhmu.
Mungkin aku akan memulai dengan ujung telunjuk kiriku sebagai semacam garis kasar, yang akan diikuti dengan ujung pisau lipatku.Ya, ya, akan kumulai dari bawah tengkuk lehermu. Bukankah di sana ada tato kupu-kupu yang membentangkan sayapnya yang biru? “Kenapa kau senang tato kupu-kupu?” begitulah aku akan bertanya lebih dulu. “Karena indah sekaligus rapuh,” pasti demikian jawabmu. Ironi yang indah,bukan? Dari gambar kupu-kupu di tengkukmu, perlahan-lahan akan kususuri dengan ujung jariku, sekaligus ujung pisauku, lekukan di tengah punggungmu yang melandai dan berakhir di lembah di antara tonjolan bokongmu yang membukit.
Lukisan Rembrant atau Monet, repertoar Beethoven atau Mozart, puisi Keats atau apalagi sekadar Goenawan, hanyalah ujung kuku dibanding keindahanmu. Dan aku ingin menikmati sendiri. “Aku ingin memilikimu selama hidupku. Dengan cinta.” Begitulah aku akan berbisik,sebelum kau meregang nyawa di puncak cinta. Mungkin kau akan tertawa, disertai air mata.
V
HEI, lelaki,apa artinya cinta?
VI
Ha-ha-ha! ***

CERPEN, AKU



Aku mungkin sudah gila. Setidak-tidaknya berada dalam stadium awal menuju gila.Aku rebahkan tubuhku yang lelah. Di tepian jalan yang ramai.Aku gila ?.Apa salahnya menjadi gila? Tidak ada salahnya.
Menjadi gila bisa menjadi jalan terbaik menyelesaikan beban hidupku. Aku bisa merdeka dari beban-beban hidup. Berjalan ke mana saja.Tidur di mana saja.Telanjang.Menyanyi. Menangis. Jika seandainya aku membunuh, tidak akan dipenjara.Paling-paling dilemparkan ke RSJ. Menjadi gila adalah sebuah kemerdekaan. Orang lalu lalang di trotoar. Aku dulu seorang pejabat penting di sebuah departemen yang basah.Dengan kekuasaan yang luas, menentukan abang birunya suatu proyek.
Tetapi dalam hati sering timbul pertanyaan. Apakah aku ini pejabat ? Atau sekadar perampok !?.Tidak adanya bedanya. Semakin hari semakin tipis-tipis saja.Aku terkadang merampok.Mencopet. Mencuri.Memerkosa.Aku mengumpulkan harta. Menimbunnya. Menyantapnya dengan lahap di setiap malam.Mulai dari sudut - sudut restoran sampai kamar-kamar hotel. Sekarang, aku terbuang. Gila.Nyasar di sepanjang trotoar. Aku menghampiri seseorang yang menyandarkan tubuhnya di dinding pagar taman kota. Ia merokok.Asapnya mengepul.Putih.Ia begitu menikmatinya. Seperti sedang orgasme dengan rokok.Aku mencoba tersenyum.
Menepuk pundaknya.Sok akrab. ”Sudah lama.” Orang itu bengong ”Sudah lama aku tidak merokok.” Dia menyodorkan sebatang rokok kretek.Aku tersenyum.Tanganku bergerak cepat. Dengan rakus kumasukkan rokok itu ke mulutku.Dia memberiku korek api.Dinyalakan.Asap segera mengepul.Setiap sedotan kunikmati dengan kekhusyukan hati. Rasanya sudah berabad-abad tidak merokok. ”Rumahmu di mana ? ” Aku tertawa. ”Kamu tidak punya rumah !” ”Jika aku punya rumah.Aku tidak akan berada di sini.” Dia tertawa. Giginya kuning.Terlihat di antara asap rokok. ”Aku tahu.Kamu dibuang keluargamu, karena kamu gila.”
”Aku tidak gila !” Ia tertawa.Jelek sekali tawanya. ”Aku sebenarnya seorang pejabat.” Tawanya semakin ngakak. ”Dasar orang gila.” Ia segera pergi meninggalkanku sendirian. Rokok kusedot dalam-dalam. Ia tidak percaya aku pejabat.Tapi,masak pejabat bajunya kucel, penuh tambalan, tubuhnya bau. Aku harus segera berganti baju.Biar orang percaya.Aku terkadang merasa masih pejabat. Biarpun sudah dipecat karena korupsi. Sesaat kemudian ia kembali.Tawanya jelek.
Giginya kuning. Menjengkelkan. ”Kamu percaya aku pejabat ?” ”Iya,aku percaya.Tapi itu dulu.” Aku bengong.Dia tahu,siapa aku ?. ”Aku tahu,siapa kamu.Pejabat negara. Koruptor.” ”Aku tidak pernah korupsi.”Aku teriak Dia tertawa.Aku tidak berani melihat wajahnya. ”Kamu merasa masih pejabat !?” Aku mengangguk ” Sekarang,kamu orang gila.Yang bisa setiap saat mati di got.Digorok.Disodomi. Dicincang. Dagingmu untuk campuran bakso.” Aku merinding. ”Kamu takut ? Orang gila kok punya takut !.” ”Aku tidak gila !!.”aku teriak kembali ”Aku tahu kamu tidak gila.Tapi sinting. Sudrun.Grazy.Mad.” Aku melihat gigi kuningnya.
Muak. Mau muntah.Aku jadi ingat sesuatu. Aku perhatikan wajah orang itu dalamdalam. Aku sepertinya mengenalnya. ” Kamu Sastro, iya kan !. Kamu ingat.Kita pernah satu partai.” Kami berpelukan. ”Kamu juga gila !?.”tanyaku Dia tertawa. ”Aku ikut kamu.Menjadi gila.” Aku mulai karierku sebagai orang gila sepuluh tahun yang lalu.Saat aku berhasil menjadi pejabat penting di sebuah departemen.Aku mengurusi proyek. Menentukan siapa yang akan menangani suatu proyek.
Aku dipilih atasan, bukan karena aku mampu di bidang proyek bangunan. Sedikit pun aku tidak paham. Hanya satu alasan. Atasan dekat denganku karena banyak kesamaan. Sama-sama suka mabuk. Ngelonte. Karaoke atas - bawah. Dan yang penting sama-sama doyan uang.Culas.Tidak jujur.Tentu maling akan berjamaah dengan maling juga. Dari sinilah aku belajar menjadi gila. Bagaimana tidak gila.Proyek yang sebesar tiga ratus juta rupiah.Aku kepras limapuluh juta.Tapi jangan bayangkan aku rakus.Aku hanya dapat lima juta.Yang lain,untuk setor ke atas dan kanan-kiri.
Tentu tanpa kuitansi atau tanda terima lainnya.Dan yang lebih gila lagi,kontraktornya bisa membuat laporan dengan jumlah total tiga ratus juta rupiah.Entah dari mana dia mendapatkan uang lima juta untuk menggenapi.Gila. Kebiasaanku yang gila mendorong aku untuk menjadi gila sungguhan. Aku terbiasa hidup di alam maya.Sulit untuk menerima fakta.Aku tidak menerima fakta bahwa uang proyek sudah kukepras.Kontraktor harus membuat laporan uang utuh.Aku tidak bisa menerima fakta.kayu kusen-kusen sebuah sekolah SD hanya dari kayu meranti.
Kontraktor harus membuat laporan sesuai bestek,kusen-kusen dari kayu jati dan bengkerai. Aku benci fakta. Aku biasa berdusta. Muak dengan kejujuran.Tapi akhirnya aku capek. Lelah.Perut istri dan anakku terlalu banyak diisi yang haram. Sehingga mereka menjadi jahat.Istri tergila-gila dengan seorang gigolo yang sebaya anaknya.Anak putriku, hamil dengan laki-laki yang ia sendiri lupa siapa namanya. Ini sungguh gila.Tapi ini fakta.Aku tidak suka fakta.Aku kaget. Shock. Depresi. Jika proyek yang aku urus dengan mudah aku bermain-main dengan angka,merekayasanya menjadi wajar dan rasional.
Tetapi istriku yang kabur dengan gigolo dan anakku yang bunting. Bagaimana aku merekayasanya ? Aku tidak bisa menerima fakta. Aku tidak biasa hidup dengan fakta. Satu fakta lagi menyusul.Aku dipecat dengan tidak hormat.Polisi memburuku. Aku korupsi katanya.Aku sadar aku memang telah mencuri uang rakyat.Tapi aku tidak sendiri. Bukankah uang itu juga aku setor ke atas dan kanan-kiri.Ini fakta.Tapi tidak pernah jadi fakta karena aku tidak mempunyai bukti otentik.Gila.Aku merasa seperti anjing kurap yang ditinggalkan di jalan menunggu digilas oleh mobil yang lewat.Ini permainan yang gila. Jika tersangka korupsi pura-pura sakit itu biasa.
Aku mencari model baru. Aku pura-pura gila. Bukankah orang gila akan terbebas dari hukum ? Bahkan kalau seandainya aku membunuh, memerkosa, merampok, tidak ada jalan bagi hukum untuk menjerat. Pada awalnya aku agak tersiksa purapura gila. Risih, harus memakai baju penuh tambalan.Tertawa sendiri.Makan dari bak sampah.Tapi lama-lama aku merasakan kenikmatan. Aku sempat dikirim di rumah sakit jiwa. Itu lebih baik daripada aku dikirim ke penjara.Sebagai orang gila aku leluasa menggoda suster, mencolek pengunjung yang bahenol, atau pipis dan berak sembarang tempat.Aku bisa melakukan yang tidak bisa dilakukan orang waras.
Tetapi aku tidak kuat lama-lama di RSJ. Aku kabur. Tentu lebih mudah kabur dari RSJ daripada dari penjara. Aku lari. Aku ingin pulang.Tapi semua hartaku musnah. Sebagian disita negara.Sebagian yang lain dibawa kabur istriku dengan PILnya. Aku shock.Depresi.Inifakta,bukan fiksi sebagaimana laporanku. Aku telah kehilangan semuanya. Aku menangis. Tertawa sendirian. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Pikiranku tak bisa dikontrol. Perbuatanku seperti sebuah refleks yang tak beraturan.Menangis.Tertawa.


Tapi aku semakin merasakan kemerdekaan jadi orang gila.Aku mulai tidak tahu,aku pura-pura gila atau memang sudah gila sungguhan.Yang pasti lama-lama aku betah jadi gila.Aku menikmati menjadi gila.Aku merasa bahagia menjadi gila.Dulu juga sudah gila. Dengan segala kekuatan aku akan mempertahankan keadaan gila. Aku tertawa. Mengekspresikan kebahagiaan. Sastro gigi si gigi kuning ikut tertawa. ” Kita ini sudah gila sungguhan.” Kata Satro ”Kamu sedih menjadi orang gila ?.” ” Gila itu pilihan hidup. Tentu dengan berbagai risiko. Dulu kita gila dengan membunuh hati nurani.Menolak fakta.Membiasakan diri hidup dengan rekayasa. Mengepras uang proyek. Merampok raskin.Uang JPS.Kita sebut uang lelah.
Uang transport.Uang syukuran.”Sastro berhenti.Wajahnya kelihatan semakin jelek dan culun ” Sekarang gila kita sudah masuk fase paripurna.Kita gila sungguhan.Hidup tidak di atas fakta lagi.Tapi di awangawang. Tertawa saat orang –orang sedih. Bukankah itu sama gilanya dengan kita dulu saat kita masih menjadi pejabat. Kita tertawa setelah mengambil uang JPS dan raskin. Si miskin menangis uangnya dipotong. Tetapi tidak berani bicara.Sedang kita tertawa terbahak-bahak. Berkaraoke. Ngorok di hotel.Makan pindang bule di ranjang-ranjang hotel.” ” Ini pengakuan dosamu !” sergahku cepat Ia tertawa lebar. Gigi kuning terlihat lagi.
”Kamu sendiri bagaimana ?” Aku terdiam. ”Yang aku katakan tadi fakta, kan !? Bukan data yang telah disihir.” ” Sejak kapan kamu bisa membedakan fakta dan rekayasa !?” ” Sejak menjadi gila pada tingkat paripurna.” Aku tertawa. ”Sama dengan kamu,iya kan !” ”Mungkin.” ”Kok,mungkin.Yang pasti dong.” ” Otakku sudah error. Tidak bisa membedakan fakta dan bukan fakta. Aku gila itu fakta atau bukan. Istriku lari dengan gigolo itu fakta atau fiksi. Anakku bunting itu fakta atau fiksi. Kemudian aku dipecat. Disidang di meja hijau. Ditudung korupsi. Purapura gila.Lalu jadi gila sungguhan, itu fakta atau bukan !?.” Sastro tertawa. Dia sudah gila.Aku semakin tidak menyadari apa sesungguhnya terjadi. Fakta atau rekayasa.Aku tertawa sendiri. Menangis sendiri. Di sepanjang trotoar yang ramai. ***


buncit 12




Sore itu, di halte bus Buncit 12, tiba-tiba saja hujan turun dengan lebatnya. Aku yang tadinya memperkirakan selamat dari hujan dalam perjalanan pulang dengan motor ke Pasar Minggu, terpaksa buru-buru berbelok dan berhenti di halte bus Buncit 12. Buru-buru pula aku turun dari motor untuk berteduh di bawah naungan atap halte.
"Hei!" Aku kaget, tak sengaja kakiku mengenai sesorang yang agaknya juga buru-buru untuk berteduh di sana.
"Maaf...," kataku sebelum sempat melihat orang yang kukenai, tapi aku yakin dia seorang wanita, berdasarkan suaranya. Aku buru-buru berbalik dan sekali lagi meminta maaf. Aku melihat dia mengusap tangannya yang tersenggol kakiku sambil bersungut-sungut. Badannya agak kurus, mukanya pucat, tapi tatapan matanya itu....
"Hei... Lind...da...," kataku kemudian tercekat. Aku membuka helmku buru-buru. "Linda...," kataku lagi senang. Jelas kulihat sekilas di wajahnya rasa senang, tapi kemudian tiba-tiba tak berekspresi, lalu cepat berubah cuek, bahkan berpaling. Apakah aku salah orang? Perasaan malu pun menerkamku. Apakah aku salah orang?
"Jangan sok kenal, deh, lihat-lihat orang, dong!" Ia kembali bersungut-sungut tanpa memandangku, malah menunduk dan sedikit memalingkan muka. Apakah aku salah orang?

Di tengah deru mobil dan gemuruh suara hujan, aku terpaku. Diam-diam, aku mencoba menegaskan kembali wajah itu. Benar! Wajah itu begitu kukenal, bahkan masih sering kukhayalkan meski sudah 20 tahun yang lalu aku begitu dekat dan amat mengaguminya: bibir itu dan tatapan senang yang tadi sempat kusaksikan sekilas. Apa ada orang semirip ini?
Tapi, bagaimana aku lupa tatapan indah itu? Bagaimana aku lupa lembutnya bibir itu? Dua puluh tahun yang lalu... kami sama-sama terduduk setelah beradu ketika buru-buru naik bus kuning di kampus UI Depok menuju Sastra.
"Heh eh..."
"Wadaw..."

"Maaf, maaa...af... aku nggak sengaja..."
"Eee..."

"Maaaf... suwer, aku buru-buru, telat nih, sorry, deh." Aku terus meminta pengertiannya karena telah menyebabkan dia terjengkang karena aku benar-benar buru-buru. Kalau aku tidak mengejar dan seruduk naik bus kuning saat itu, paling tidak aku menunggu lima menit lagi untuk sampai di kampus Sastra. Padahal aku sudah hampir telat, bisa-bisa aku terlambat memulai ujian kajian sastra hari itu.


"Emangnya elu doang yang telat, yeee... Gue juga mau ujian tahu...."
"Ya... iya sama, maaf deh, sungguh..." Aku tak berani lagi berkata. Sambil merapi-rapikan ransel buku, sekali-sekali aku meliriknya yang juga merapi-rapikan tasnya. Ah, cakep juga, kataku dalam hati. Ah bodo, aku kembali fokus pada ujian yang beberapa menit lagi dimulai.

"Aahh... selesai sudah, Jooook...," kataku pada temanku, sembari menghempaskan diri di bangku panjang balsem di bawah pohon karet di belakang kambus Sastra. Seperti biasa, sambil menghempaskan diri aku lalu mengangkat kaki tinggi-tinggi dan berbalik. Tapi kali ini hempasanku kurang pas sehingga aku justru terjatuh dengan kaki terjungkal ke belakang.

"Wadaw...."

"Aduah... mmmaaf..."
"Eh, lu lagi... Iiih, sialan, lu..."
"Maaf...."

"Sakit, tahu..."
"Maaf...," kataku, sambil terus nyelonong hendak mengusap lengannya yang kena kakiku tadi.

"Ee. eeh... malah megang-megang!"
"Bu bu kan...."
"Ah.. lu Ron, bilang aja mau megang ha ha ha," tiba-tiba temanku nyela sambil tertawa diikuti yang lain.
"Maksudku... aku benar-benar..." "Ah dasar lu... Namanya Sinta tu, langsung aja," kata Romi menimpal. Aku kehabisan akal. Mukaku rasanya panas, aku yakin wajahku memerah. Tapi aku senang, Sinta, kalau memang itu namanya, wajahnya juga memerah. Ia tertunduk malu, lalu pergi menarik tangan temannya. Aku kemudian terpana memandangnya pergi.
"Woy... alaaah playboy cap kampak lu, pura-pura terpesona, Namanya Sinta, anak China tuh."

"Oh ya... oooo." Aku duduk tak berkata-kata. Aku jadi membayang-bayangkan Sinta, kalau memang itu namanya. Kok dua kali?
Dan, sejak itu hidupku pun berubah. Benar-benar aneh, sepenjang hari pikiranku dipenuhi bayangan Sinta, sampai berbulan-bulan. Bahkan, sampai seperti setengah gila, aku kadang-kadang tak sadar menyebut-nyebut namanya.
Tak dapat kusangkal, aku semakin parah ketika dia terang-terangan menolakku ketika aku bersusah payah mengutarakan perasaan kepadanya. Seolah-olah dunia ini selesai sudah. Aku tak pernah lagi konsen kuliah. Setiap ada kesempatan, aku selalu memandangnya dari jauh, bagai seorang pengemis.
Namun, setiap aku mendekatinya dia tetap menjauh, bagai aku ini pesakitan yang menularkan wabah. Sampai suatu saat aku memutuskan berbuat nekad, benar-benar nekad: menuturkan semua dengan titik bening berbulir dari mata hati apa adanya. Di rumah kosnya, tanpa malu kutumpahkan kasih kerinduan yang terantuk-antuk. Dan... jatuhlah juga keibaan Sinta, atau memang telah ada sejak lama tapi ditutupi rapat sekali. Perlahan pintu itu berderik lembut, menyeruakkan cahaya di baliknya, yang terasa telah lama menunggu. Selanjutnya, cahaya itu segera membuka dan aku jatuh lumat ke dalam kenikmatannya.... Bayangkan rasanya, "Aku... ju..ga... suka...," katanya pelan waktu itu, menunduk, tanpa menatapku.
Sore itu, setelah kuliah selesai, aku menunggunya di Kantin Sastra. Kira-kira pukul tiga sore dia muncul begitu anggun. Itu mungkin karena aku sudah begitu makin dalam menyukainya. Semua tampak indah.
Tapi agak aneh, wajahnya memperlihatkan bayangan kesedihan yang ditutupi. Ah, biarlah. Senyumnya, yang saat itu agak terasa dipaksakan, telah memabukkan aku yang sudah teramat dalam jatuh cinta, yang membuat aku tak peduli.
"Hai... sudah lama ya."
"Wow...."

"Ih... apanya yang waw...."
"Wow...." Wajah dan senyum itu kembali menyilaukan aku. Dia lalu menunduk. Rambutnya yang panjang jatuh menutupi sebagian wajahnya.
"Setiap aku memandangmu, aku jatuh cinta lagi," bisikku dekat telinganya yang tertutup rambut, wangi.
"Ihh... gombal." "Sunguh!"
"Mmmm... dah taaau..." katanya lembut. "Jadi kita ke...."
"Ke mana saja... aku akan ikut... asal... bersamamu," cepat aku masih mengubar perasaan.

Aneh, tiba-tiba dia mengangkat muka pelan, menatapku dalam, seakan ada yang memberatkan pikirannya. Aku masih melayang, tak peduli duka itu. Kemudian dia pelan menunduk.

"Oke, ayo," kataku sambil meraih lengannya. "Kita berangkat." Kemudian kami berjalan bergandengan, rasanya dunia milik kami, paling tidak yang kurasakan sendiri.
Benar, saat itu aku hanya mengusap-usap perasaanku, tanpa sedikit pun mengempati kegundahan yang tersembunyi pada sikapnya. Sampai di kosnya, bagai serigala lapar, aku melahap segala yang tersedia, melumat gelora bersama angin tanpa perasaan. Aku benar-benar egois. Sampai akhirnya desah dan tangis kecil yang ditutup-tutupi memecah puncak pemenuhan hasratku.
Kami terhampar luluh di kamar itu, di atas lembut bunga-bunga penghias peraduan gadis muda belia. Kami saling berpandangan, saling menatap dalam hingga menembus jauh ke hati. Senyumnya mengembang, aku senang, tapi tak ada kata-kata yang mampu kuucapkan.

"Kamu puas, sayang," katanya. Aku tak langsung menjawab, karena memang tak bisa menjawab lantaran ada yang janggal dari kata-kata dalam pertanyaan itu. Agak lama.
"Ya... kamu, Say?" aku akhirnya menjawab juga. Tiba-tiba ia memelukku erat sekali. Aku merasakan gemuruh tangis, meski tak ada suara.
"Ada apa, Say..."
"Nggak ada apa-apa, aku juga senang...," katanya lembut sekali tertahan. Kami pun berpandangan lagi, lalu berpelukan, lama, lama sekali, hingga akhirnya jatuh tertidur.
"Linda... bukankah kamu Lind...da...," kataku pelan, hati-hati sekali, mendekati wanita di Halte Bucit 12 itu. Kulihat dia cemas, tapi dia tetap tenang seolah-olah tak mendengar. "Boleh aku...."
"Eh, siapa sih Linda? Linda-linda?" Anehnya dia tak berani memandang ke arah aku. Suaranya agak serak. Aku makin yakin ini Lindaku. Perasaanku jadi tak menentu. Sudah bertahun-tahun aku mencarinya sejak aku terbangun dari tidur di rumah kos Linda 20 tahun lalu.
"Sudah dua puluh tahun, aku tetap mencarimu... sejak kamu tinggalkan aaak...." Tiba-tiba dia memandangku sekejab, wajahnya pucat. Tiba-tiba bangkit dan lari menerobos hujan dan meloncat ke metromini yang lewat.
Seperti ada kaitan, metromini pun tancap gas. Aku terpana, terdiam kaku. Tak lama kemudian aku tersadar. Itu pasti Linda, Lindaku, wajahnya, bibirnya, gerakan tubuhnya. "Linda, Linda, Lindaaaa.... Ada apa, Linda..." Air mataku berjatuhan bersama hujan. ***
*

BERSAMA KUPU-KUPU, NUKE TERBANG




Apa pun jenis kupu-kupu, siklus kehidupannya seperti ini: telur, ulat, kepompong dan akhirnya bermetamorfosa, menjadi kupu-kupu! Meski banyak orang jijik melihat ulat, tapi mereka menyukai kupu-kupu.

Nuke ingin mendirikan home stay, setelah merasa jenuh bekerja selama hampir 15 tahun di perusahaan asing. Di meja makan ini, Nuke bilang kepada suami, anak-anak dan semua handai taulan, "Rumah peninggalan Mami ini akan kubuat home stay saja. Dengan begitu, aku bisa tetap bekerja dan sekaligus mengawasi anak-anak."

Semua mengangguk-angguk. Memang rumah tua ini cocok untuk home stay, karena halamannya luas dan asri (rumah semodel ini sudah jarang ada di kota Malang). Dari studi banding yang dilakukannya di beberapa home stay yang semodel dengan rumahnya, sekarang punya daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara dari negeri Belanda yang ingin melihat bangunan di zaman Hindia–Belanda yang digarap oleh Thomas Krasen pada tahun 1914.

Namun, setelah berminggu-minggu, dibukanya home stay ini tak ada seorang pun tamu yang menginap di home stay itu.

Padahal, dia sudah mengiklankan di koran lokal, internet, dan radio-radio swasta. Apa yang menjadi keistimewaan dari home stay ini, yaitu suasana Hindia-Belanda tampak terpancar di setiap sudut rumah ini.

Suatu malam, ketika duduk sendirian di teras, dengan perasaan senyap, tiba-tiba Nuke teringat ucapan almarhum Mami, "Hari ini ada banyak sekali kupu-kupu di halaman kita. Pertanda akan banyak tamu ke rumah. Bisa jadi saudaraku atau saudara Papimu akan datang."

Kemudian secara bergegas, Mami menanak nasi lebih banyak dari biasanya dan menyuruhnya (pada waktu itu dia sudah berusia 12 tahun dan duduk di kelas satu SMP), ke warung sebelah untuk membeli telor, tempe, minyak, lombok. Dan Mami selalu bilang, "Kalau saudara-saudara kita datang, mereka kan dari luar kota, kita harus menjamu mereka dengan makanan. Namun, hari ini aku malas ke pasar, lauknya ditambahi telor yang dilomboki saja."

Waktu itu, dia merasa Mami bahagia sekali.... Konon, ketika dia berusia delapan tahun, Papi pergi, tak pernah kembali! Menurut Mami, Papi-nya menderita amnesia. Bisa jadi tidak tahu jalan pulang ke rumah atau Papi sudah meninggal! Masih menurut Mami, Papi kadang-kadang datang dalam bentuk lain, menjadi kupu-kupu dan mengisyaratkan cintanya pada dia dan Mami. Mami juga bercerita, kalau ada sepasang kupu-kupu, mereka dahulunya adalah sepasang kekasih. Ketika Nuke menanyakan, "Apakah Mami dan Papi akan menjadi sepasang kupu-kupu?"

"Nduk, sekalipun pada waktu itu, kami sudah menikah selama 10 tahun, tetap seperti sepasang kekasih. Bisa jadi, aku dan Papimu akan menjadi sepasang kupu-kupu, atau mungkin juga tidak. Yang penting hari ini, aku harus bekerja keras, agar kau bisa sekolah dengan nyaman."

Waktu itu, dia merasa kecewa, terpikirkan olehnya, Mami tidak pernah memiliki cinta itu lagi. Dia selalu ingat ucapan Mami itu. Namun, dia berpikir apakah dengan isyarat kupu-kupu itu, para tamu akan berdatangan ke home stay-nya, seperti ketika dia masih kecil. Yah di halaman rumahnya hampir tidak ada kupu-kupu lagi yang beterbangan seperti di masa kecilnya! Banyak orang bilang, itu karena polusi udara atau mungkin Mami dan Papi-nya merasa tidak perlu datang lagi untuk mengirim cintanya, karena dia sangat mencintai suami dan anak-anaknya.

Dia menceritakan itu di meja makan kepada anak-anak dan suaminya. "Ma, kalau begitu kita harus mendatangkan kupu-kupu di kebun kita, agar kupu-kupu itu berdatangan lagi bersama cinta Kakek dan Nenek dan para tamu home stay. Coba saya carikan di internet, bagaimana mendatangkan kupu-kupu di kebun kita."

Kemudian, Nuke membaca dari internet, bagaimana caranya membudidayakan kupu-kupu. Kamu dapat mendatangkan kupu-kupu di kebunmu dengan umpan, makanan, tumbuhan (tumbuhan dan bunga), air, perlindungan dan tempat untuk meletakkan telur. Kupu-kupu itu akan mengisap sari pati madu dari bunga, kemudian setelah bertelur akan menjadi ulat yang sangat rakus memakan daun-daunan. Dan ulat-ulat itu menjadi kepompong, kemudian menjadi kupu-kupu. Yang betina akan betah bertelur di kebunmu.

Nuke mencoba mengikuti apa yang tertera dalam tulisan itu, melakukan hal-hal yang disarankan. Tiba-tiba Nuke ingat masa kecilnya, kala bermain-main di halaman rumahnya ini, sendirian saja. Karena merasa harus pergi jauh. Ketika Mami memarahinya atas kesalahan yang sampai sekarang tidak pernah dimengertinya. Ada kupu-kupu bagus hinggap di pundaknya, Nuke merasa yang datang itu Papi-nya yang sedang menghibur dirinya. Melihat kupu-kupu itu, sering sekali dia memimpikan terbang dan bersayap seperti kupu-kupu. Di kerajaan kupu-kupu, dia bertemu lagi dengan Papi yang dirasanya waktu itu bisa melindunginya dari kemarahan Mami. Papi mengajarkan kepadanya bagaimana memberi dan menerima isyarat cinta itu. "Kalau kau sudah dewasa, jadilah orang yang bisa mencintai. Yah, seperti sepasang kupu-kupu yang berputar-putar di halaman ini."

Sesungguhnya, baru sekarang dia tahu bahwa kupu-kupu itu berimigrasi jauh sekali. Dari satu benua ke benua yang lain. Jenis luar biasa ini (kupu-kupu raja) hidup di Kanada bagian selatan. Mereka bisa berimigrasi ke California atau lebih ke selatan lagi yaitu Meksiko. Semua kupu-kupu jenis raja ini bertemu satu sama lain di sepanjang perjalanan. Mereka tidak memulai perjalanan dalam sembarang hari. Tapi pada satu hari tertentu di musim gugur, yaitu ketika siang dan malam memiliki panjang waktu yang sama.

Setelah membaca artikel ini, keinginannya agar kupu-kupu berdatangan semakin lebar. Karena setiap kali dia bermimpi dia bisa pergi terbang jauh, bersama kedua orangtuanya.

Nuke kemudian menanam bunga-bunga yang di rasanya penuh madu, agar kupu-kupu itu segera berdatangan dan betah di kebunnya.

Hari-hari selanjutnya, home stay Nuke tidak juga didatangi oleh seorang tamu pun dan bahkan tidak juga oleh kupu-kupu. Padahal, kalau dibanding dengan home stay lain, tempatnya tidak kalah menarik. Rumah tuanya, menjadi sangat artistik dengan ditata sana-sini, persis seperti zaman kolonial Belanda.

Suaminya mengusulkan untuk membuat iklan di mana-mana lagi. Dan Nuke punya ide untuk menangkar kupu-kupu saja di halaman rumahnya. Dia mendapat sepasang kupu-kupu yang menurut penjualnya, adalah jantan dan betina. Dia ingin mengawinkan kupu-kupu itu. Ketika itu juga dibacanya dengan penuh semangat pendapat ahli biologi di universitas Buffalo (AS). Kupu-kupu betina lebih memilih pasangan kawinnya yang memiliki pupil atau titik putih pada sayapnya. Sebaliknya, bentuk ornamen sayap, warna dan ukurannya tidak terlalu dipedulikan oleh kupu-kupu betina.

Nuke, menaruh kedua kupu-kupu itu di sangkar, tapi kelihatan kedua kupu-kupu itu tidak melakukan apa pun. Sehingga, Nuke memutuskan untuk membuka sangkar itu dan membiarkan mereka secara alamiah saja, meletakkan kedua kupu-kupu itu pada bunga yang di rasanya penuh sari pati madu. Berhari-hari kedua kupu-kupu itu masih berada di sana, pada hari ketiga pagi ini, dia melihat kedua ekor kupu-kupu itu tiba-tiba sudah terbang tinggi di atas kepala Nuke, terbangnya jauh sekali meninggalkan Nuke, rumah dan kebun ini. Untuk sesaat, Nuke merasa sedih dan suaminya bilang begini, "Kau tahu yang memberi rezeki itu Tuhan, bukan kupu-kupu. Jika kau suka pada kupu-kupu terserahlah, untuk menghilangkan stres agar kau tidak memarahi aku dan anak-anak."

"Apakah, aku harus balik kerja? Perusahaan itu masih memberikan peluang padaku, karena mereka tidak cocok dengan penggantiku yang baru."

"Kau kan sudah setengah jalan mengapa harus mundur, itu bukan watak seorang Nuke. Kau sendiri bilang, Mamimu mulai dengan sebuah toko kecil di rumah, sebelum ada toko lain di pusat kota. Dan kamu kan sudah berniat menjadikan kebun ini menjadi rumah bagi kupu-kupu."

Nuke kembali membaca beberapa artikel yang didapatnya dari browsing. Sekali lagi, dibacanya bagaimana beternak kupu-kupu di kebunnya. Dia merasa sudah melakukan petunjuk-petunjuk yang ada dalam artikel tersebut. Namun, belum juga tampak hasilnya.

Kemudian Nuke merasa memiliki ide yang cemerlang lagi. Kalau belum juga kupu-kupu datang di kebunnya, dia ingin menghiasi kebunnya dengan kupu-kupu buatan. Oleh karena itu, dia meminta tolong temannya yang perajin kayu, untuk membuatkan kupu-kupu dari kayu. Nuke memberi contoh dari 150.000 jenis kupu-kupu, hanya yang pernah dilihatnya, di kebun waktu masa kecilnya, itu saja yang ingin dibuat tiruannya. Di mana kupu-kupu itu, pasti Papi dan Maminya yang mencintainya dan datang hanya untuk mengucapkan perasaan cintanya.

Perajin itu membuat beraneka spesies kupu-kupu dengan sangat memuaskan Nuke. Pagi itu juga dia memasang seluruh kupu-kupu dari kayu di halaman home stay-nya. Suami dan anak-anaknya menganggap kupu-kupu buatan itu, kalau dari jauh sangat mirip dengan yang asli.

Besoknya ada tamu pertama yang datang. Tamu itu sekeluarga dengan dua anak laki-laki yang mungkin masih duduk di sekolah dasar. Kegembiraan Nuke menjadi lenyap, ketika dia tahu setelah tamu itu pulang. Kupu-kupu buatan itu hampir semuanya rusak karena ulah kedua anak tamu itu.

Nuke kemudian meminta kepada perajin kayu untuk membuatkan lagi kupu-kupu kayu yang sudah dirusak oleh anak-anak tamu itu. Menurut perajin itu, bahan baku kayu semakin sulit, sehingga tidak bisa memenuhi permintaan Nuke secepatnya.

Dengan kesal, Nuke mencoba mencari kupu-kupu yang masih utuh. Dari sekian puluh kupu-kupu itu, Nuke hanya menemukan sepuluh kupu-kupu yang masih utuh. Dengan sedih ia menaruh kupu-kupu itu di setiap sudut rumahnya. Namun setelah itu, ia melupakan ide-idenya tentang kupu-kupu itu. Karena, tiba-tiba tamunya begitu banyak. Dan suaminya bilang, "Nuk, ini bukan karena kupu-kupu, rezeki ini dari Tuhan."

Nuke, mengangguk-anggukkan kepala, dia merasa menjadi sesuatu lagi, ketika kamar-kamar home stay-nya dipenuhi banyak tamu. Kali ini, dia merasa harus memeriksa kebun-kebunnya yang sudah dipenuhi lagi oleh kupu-kupu buatan perajin itu.

Nuke tercengang, pagi ini dia merasa orang yang paling bahagia. Di seputar pohonnya, banyak sekali kepompong yang bergantungan dengan sebuah tali.

Kupu-kupu yang berwarna-warni itu, beterbangan di kebunnya dan ketika isyarat cinta itu datang lewat kupu-kupu, Nuke sedang sibuk melayani tamu-tamunya!***

BERHALA DI HUTAN KAYU


BERHALA DI HUTAN KAYU


Dengan kapak berkilat-kilat lelaki itu mendekati patung di pusat kota. Meski usianya sudah tidak muda lagi, langkahnya masih tampak perkasa dan semangatnya membara. Butir-butir keringat di kening berkilauan memantulkan sinar matahari. Dari balik kaca mata bening yang dikenakan, sorot mata lelaki itu menyiratkan keyakinan berlipat.

"Telah ditanamkan sampah di kota-kota peradaban. Dan inilah kapak Ibrahim hamba!" 1) katanya sambil mengacungkan benda itu ke arah langit.

Patung sosok perempuan itu berdiri menjulang. Rambutnya panjang mengurai. Telapak kakinya menumpu di pelataran beton, sementara kedua tangannya membuka seperti tengah menyambut orang yang akan memeluknya. Bagian-bagian tubuh patung itu tergambar dengan detail. Tanpa ada yang disembunyikan. Di tengah kota yang megah, patung itu hadir tanpa busana sesobek pun.

Di depan patung, dengan jarak tak lebih dari seratus meter, terdapat masjid besar kebanggaan warga kota. Posisi patung benar-benar berhadapan dengan pintu masjid. Antara keduanya dipisahkan oleh tanah lapang. Setiap orang yang datang dan pulang dari masjid pasti berpapasan dengan patung tersebut. Kondisi ini sudah lama menjadi bahan pembicaraan. Tapi hingga hari ini belum ada keputusan.

"Jadi, Pak Tais akan memulainya sekarang?" tanya Waidi.
"Tunggu apa lagi? Kita memang telah merdeka. Tapi itu bukan segalanya. Gerakan Syahwat Merdeka mau mengikis habis budaya malu!" jawab lelaki yang dipanggil Pak Tais itu bersemangat.

"Memang," Waidi mengangguk-angguk, "nilai-nilai kesucian yang ditegakkan dengan susah payah selama berabad-abad oleh para nabi, wali, dan orang-orang saleh mau diruntuhkan."

"Kita tidak mencari sensasi. Dari Ibrahim sampai sekarang tugas kita adalah menghancurkan berhala kemungkaran dengan tangan, mulut, dan hati kita!"

Keduanya berjalan ke arah patung. Cuaca sangat panas, tapi di atas sana terlihat mendung menggantung sebagai pertanda akan hujan. Di kejauhan sudah terdengar ada geluduk. Awalnya memang tak ada yang tahu rencana pembangunan patung tersebut. Tiba-tiba saja kawasan yang dikenal sebagai Hutan Kayu ini dibabat dan dipagari seng keliling. Konon ada tiga belas aliansi yang melakukan aktivitas di dalamnya. Dari dalam pagar itu sering keluar-masuk beberapa Perempuan Ayu. Tak jelas, apakah para Perempuan Ayu itu ikut tidur di situ atau tidak. Baik yang laki maupun perempuan, omongan mereka kerap terdengar sangat jorok. Di dekat tempat itu bahkan pernah ditemukan buku-buku cerita yang kelewat jorok serta kumpulan puisi dengan gambar alat kelamin di sampul depannya.

Pada suatu hari, saat pembangunan masih berlangsung dahulu, dua laki-laki bernama Ahmad dan Rada yang mulanya bekerja di situ menyatakan mengundurkan diri secara terbuka. Keduanya menyatakan tidak sepaham dengan aliansi di dalam. Dengan mundurnya dua orang tersebut semakin sempurnalah gerakan aliansi itu. Maka, kata-kata jorok pun semakin sering terdengar di situ. Beberapa bulan setelah itu pagar yang mengelilingi Hutan Kayu itu dibongkar. Bonggol-bonggol kayu masih tampak di sana-sini dengan ketinggian sekitar satu meter. Terlihat ada bangunan yang masih diberi selubung di kawasan tersebut. Banyak yang penasaran menanti selubung itu dibuka. Dan, benar, tiga hari setelah itu selubung pun dibuka. Ternyata dia adalah patung telanjang! Itulah yang menyulut Pak Tais mengasah kapaknya.

Terlihat seorang lelaki, Hudat namanya, dengan langkah terburu-buru mendekati Pak Tais dan Waidi dari arah belakang.

"Kau tidak bisa menghancurkan patung dengan mengatasnamakan Tuhan atau agama dengan tafsir seperti itu!" Hudat melontarkan kata-katanya dan menuding-nuding. Pak Tais mengeryit dan meninggikan kaca matanya.

"Terus?" Pak Tais menyela sambil mengangkat kapaknya. Dia memandang ke lelaki yang rambutnya dicat merah itu.

"Justru patung itu tercipta sebagai pancaran dari ayat-ayat Tuhan."
"Ya, itu benar!" seorang perempuan bernama Mariani yang datang menyusul Hudat ikut menimpali. "Dan kami sudah sepakat sebelum berkarya bersama."

Tiba-tiba datang lagi lelaki bernama Paisi ke kerumuman itu. Tubuh lelaki ini kecil tapi dia menampakkan keberanian juga. Mata Paisi memandang ke kerumunan itu secara bergantian. Kali ini menancap tepat ke kening Hudat. Paisi dengan cepat melompat ke bonggol kayu dan berdiri di atasnya.

"Kamu paham dengan yang kamu ucapkan tentang ayat-ayat Tuhan? Jangan sembrono! Tuhan telah memberi contoh simbol dan metafor untuk mengungkapkan banyak hal," Paisi menuding muka Hudat. "Pertentangan kalian adalah mencerminkan ciri zaman, di mana kaum muda yang progresif berhadapan dengan kaum tua yang merasa mapan!"

"Maaf," Pak Tais memotong sambil menempelkan kapak ke dadanya, "ini bukan perkara generasi, tapi perkara tanggung jawab moral terhadap bangsa!"

"Apa bukan karena selama ini Anda sering diundang ke sekolah-sekolah?" Benis, yang ternyata baru datang di belakang Hudat, nyeplos juga bicaranya.

"Itu wujud tanggung jawab kami untuk ikut membangun generasi muda di sekolah."

"Menyebalkan!" Benis melengos.
"Kita sudah terlalu jauh meninggalkan nilai-nilai agama," Pak Tais menjawab lagi.

"Jangan pakai pendekatan agamalah! Ini urusan seni!" terdengar suara membelah. Ternyata Sitompu yang baru muncul ikut menukas.

"Oke kalau nggak boleh," Pak Tais menurunkan nadanya, "sekarang bagaimana reaksi Anda andaikata yang dibuat patung telanjang itu adalah sosok ibumu? Malu apa ndak kalian?"

Suasana sepi beberapa saat. Tak ada yang bicara. Pak Tais menatap wajah-wajah yang mengelilingi dirinya. Udara terasa makin gerah karena ada mendung menyumpal di langit. Bunyi geluduk terdengar makin kerap. Angin tiba-tiba menerpa mengusung gulungan-gulungan debu ke arah mereka. Terdengar kata-kata kotor meluncur.

"Kalian sudah over dosis. Kalian menginginkan kebebasan, tapi di saat yang sama kalian justru kehilangan rasa malu sehingga berani mempertontonkan kemaluan sendiri. Ini sudah maniak!" Pak Tais kembali menandaskan.

"Kita berada dalam ruang kreatif yang berbeda dan tak bisa dipertemukan. Mestinya kita saling menghargai," Mariani kembali menimpali.

"Itu kalau Anda hidup sendiri. Ini ruang publik. Jadi tak ada yang bebas nilai. Setiap orang punya rasa tanggung jawab pada kepentingan umum," Waidi menuding ke Mariani.

Mariani mendelik ke arah Waidi. Perempuan itu dengan cepat melompat ke bonggol kayu dan berkacak pinggang. "Apa kamu kira kami tak punya tanggung jawab!"

"Tanggung jawab kalian hanya sebatas tanggung jawab kreatif individual. Tapi tak menyentuh tanggung jawab sosial. Sementara patung itu kalian pajang untuk dilihat masyarakat. Itu namanya egois. Sama saja dengan membuang limbah ke tengah perkampungan!" Pak Tais kali ini menaikkan tensi omongannya.

Mariani dengan cepat meloncat turun. Dia dan yang lain segera ambil posisi mengelilingi Pak Tais dan Waidi sambil berputar-putar. Kedua lelaki yang merasa dikepung itu ikut berputar sambil mengawasi langkah demi langkah. Sementara Hudat yang napasnya terlihat ngos-ngosan akan merebut kapak di tangan Pak Tais.

"Semakin bernafsu kalian merebut benda ini, saya akan semakin berusaha keras mempertahankan," Pak Tais, sambil tersenyum, menggenggam kapaknya makin erat. Dia menoleh ke kiri ke kanan, dilemparkannya kapak itu ke udara, kemudian ditangkapnya kembali dengan tangan kiri seperti hendak mempertontonkan kepiawaiannya.

"Jangan kau teruskan niatmu!" Benis menuding kencang.
"Tak ada yang dapat memenjarakan niat kami," Waidi menepuk-nepuk dadanya. Dengan sekali hentakan dia pun telah berada di atas bonggol kayu. Kumis dan rambut keritingnya tampak makin tebal. Terdengar mendung menggelinding di atas kepala. Cuaca meredup.

Sekonyong-konyong perhatian mereka terbelah. Terlihat seorang lelaki berlari mendekat sambil berteriak-teriak. Ternyata dia adalah Muhid. Dia segera membelah kerumunan dan berdiri tepat di depan Pak Tais.

"Kau? akan menghancurkan patung itu??" Muhid terbata-bata. "Persis seperti aksi si komunis Njoto menentang yang cabul-cabul dulu. Sekalian tiru saja dia!"

"Aha, dulu kau pernah bilang gerakan komunis masih remang-remang. Sekarang, Bung, kau omongkan itu dengan fasih. Ada hubungan apa kamu?" Pak Tais manggut-manggut. "Kau sudah baca buku-buku sejarah?"

"Tentu!"
"Ketahuilah Bung, komunis melakukan propaganda itu karena ambisi politik dan ingin merebut kekuasaan. Toh akhirnya mereka melakukan pembunuhan masal. Kami sangat jauh dari itu. Niat kami hanya karena Allah."

Muhid tak menjawab. Sekarang dia memepet Pak Tais dan memegang lengannya. Mata keduanya bertatapan. Waidi meloncat turun dari bonggol. Dengan tak kalah beraninya Waidi ikut menghadang. Kali ini dia merebut posisi Pak Tais dan ganti mengadu dada dengan Muhid. Sementara Paisi terlihat canggung dan agak takut. Di sebelahnya Hudat berkacak pinggang tinggi-tinggi.

"Ketahuilah!" Waidi menggeretak, "siapa pun yang memperjuangkan hukum Tuhan memang banyak dimusuhi. Ibrahim dibakar dengan api, Musa dikejar-kejar oleh Firaun, Isa disiksa, dan Muhammad dilempari dengan batu dan kotoran."

"Apa-apaan, jangan sok suci!" terdengar suara memotong. Ternyata Bihat datang juga. "Persetan semuanya!"

"Tuhan yang mengetahui hati kami," Waidi membalas.
Saat itu pula terdengar langkah mendebam-debam. Persis berbarengan dengan bunyi geluduk di langit. Kerumunan terhenyak dan mereka mengalihkan perhatian. Terlihat seorang lelaki berlari mendekat. O, ternyata yang datang adalah Wowo. Dengan napas seperti kuda Wowo membelah kerumunan. Dia langsung mengambil posisi Pak Tais dan Waidi. Ditatapnya mata mereka satu per satu. Bihat yang mencoba mendekat disepak minggir. Bihat tampak ketakutan dan mengusap-usap kepalanya yang gundul. Wowo, dengan jenggot yang lebat, tampak meradang dan berani. Dia pun berujar,

"Kalian jangan coba-coba mencemari budaya dan moral bangsa kami. Kami adalah Bumi Putra. Kalian agen imperialis yang menyebarkan virus budaya dan seks. Kalian menghancurkan peradaban! Nilai-nilai budaya kalian rusak. Maka jadilah kalian budak kebebasan yang tak berperadaban!"

Sontak Hudat menuding-nuding. Bibirnya kelihatan bergetar dan dadanya mengembang. Kata-kata pun meluncur darinya, "Kalian iri. Kalian telah kalah dalam pertempuran kreatif. Kalian tak mampu menandingi kami sehingga kalian menggunakan dalil-dalil moral untuk menyerang kami. Kuno!"

"Kami tidak akan menghalalkan segala cara!" Wowo ganti menuding. "Kalian telah menggunakan dana dari dewan kesenian untuk kepentingan sendiri. Temanku Saut juga pernah omong ini. Kalian telah mengelabuhi pemerintah dan rakyat!"

"Itu kata-kata khas orang yang tak mampu membangun network. Bisanya menuduh dan selalu curiga! Bilang juga sama Saut!" Hudat meloncat pula ke atas bonggol kayu dan menepuk-nepuk dada, "Ini Hudat!"

"Ketika hendak melaksanakan perintah Tuhan," Pak Tais menukas, "Ibrahim dan Ismail digoda oleh para iblis agar menggagalkan niatnya melaksanakan perintah Tuhan. Maka, Ibrahim pun melempari iblis itu dengan batu. Iblis lari terbirit-birit."

"Tapi, kami tak akan lari!" Hudat membalas dengan cepat.
"Karena rasa malu kalian sudah tergadai!"

"Apa maksudmu?" Mariani menuding.
"Pikirkan itu!" Waidi membalasnya.
Cuaca makin meredup. Terdengar geluduk menggelinding di atas ubun-ubun seperti batu-batu besar meluncur. Awan hitam berarak ke satu titik. Kilat pun terlihat membelah. Suasana dengan cepat menjadi gelap. Geluduk sontak pecah menggelegar. Mereka yang tadi berdebat berhenti dengan sendirinya. Ditatapnya langit yang pekat di atas kepala. Petir dengan ganas menyambar seperti pecut menghajar. Mereka pun berlarian. Beberapa saat setelah itu hujan seperti dicurahkan dari langit. Hutan Kayu dan patung itu terbebat hujan.

Hujan telah lama mengguyur Hutan Kayu dengan lebatnya. Sudah hampir dua jam, tapi belum ada tanda-tanda mereda. Tanah yang gundul itu mengalirkan air keruh hingga ke halaman masjid. Dulu, ketika pohonnya masih lebat, tak pernah terjadi seperti ini. Air hujan terus mengangkut berbagai kotoran ke halaman masjid. Kecemasan mulai merambat seiring semakin naiknya permukaan air. Ini juga terjadi gara-gara sungai yang melewati Hutan Kayu ditimbun untuk fondasi patung. Akibatnya, kini air meluber ke mana-mana.

Air menggenangi jalanan hingga setinggi lutut. Tak bisa dihindarkan. Kemacetan terjadi sepanjang ruas jalan. Klakson kendaraan meraung-raung. Banjir terus menggempur. Maka, mogoklah semua kendaraan. Teriakan-teriakan terdengar di sana-sini.

Apa yang terjadi? Terlihat warga sekitar mulai kehabisan kesabaran. Di bawah guyuran hujan, mereka beramai-ramai mendatangi Hutan Kayu dengan membawa berbagai peralatan seperti cangkul, linggis, sekop, ganco, parang, bahkan juga terlihat pedang, celurit, serta potongan-potongan besi. Mereka berteriak-teriak makin keras. Anggota mereka juga makin bertambah. Dengan kaki-kaki terendam air hingga paha, mereka mulai tiba di Hutan Kayu dan langsung mengepung patung. Berbagai senjata diacung-acungkan ke arah patung. Aba-aba pun diteriakkan.

"Stop! Hentikan!" tiba-tiba terdengar suara datang.
Orang-orang seketika menoleh ke belakang. Ada serombongan lain datang mendekat. Rombongan terakhir ini ternyata dimotori oleh Hudat beserta kawan-kawannya yang terlibat perdebatan sebelum hujan tadi. Mereka datang dengan melepas baju.

"Jangan coba-coba hancurkan patung!" teriak Hudat, "Kita harus bisa hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan! Hargai ekspresi dan karya orang lain!"

"Apa maksudnya?" salah seorang ganti bertanya.
"Jangan melihat persoalan secara hitam putih!"

Tiba-tiba Hudat melihat Pak Tais dan Waidi datang mendekat. Tidak ada lagi kapak di tangan Pak Tais. Sementara hujan belum menipis. Aliran air terasa makin deras karena gelontoran dari atas.

"Kau pasti yang menggerakkan orang-orang kampung itu!" Hudat menuding ke Pak Tais, "Kau telah memperalat dan menunggangi mereka!"

"Maaf Bung, kami sama sekali tidak melakukan itu."
"Kura-kura dalam perahu!" Bihat ikut menuding.

"Kau gunakan pengaruhmu untuk menghasut mereka!" teriak Mariani sambil menyingkap roknya hingga ke lekuk paha.

"Kau telah melakukan provokasi pada mereka. Sejarah berulang. Ketika akal sehat sudah melemah, cara culas akan ditempuh. Ingatlah kepicikan Ken Arok, Jaka Tingkir, Napoleon, atau Musolini!" Hudat makin kencang.

"Ditunggangi!" Benis berteriak.
"Kami tak kenal kamus tunggang-mengunggang," Waidi membalas.
"Mereka, orang-orang yang tak mengenal hakikat seni dan keindahan, tidak selayaknya dilibatkan dalam wilayah ini. Ini pembodohan!" potong Bihat.

"Maaf," salah seorang warga kampung ikut angkat bicara, "perdebatan kalian soal karya seni sudah selesai. Biar sejarah juga yang menjawabnya. Ketika roh kalian sudah tinggal di tenggorokan dan maut sebentar lagi menjemput, saat itulah kalian menemukan jawaban apakah yang kalian perdebatkan selama ini berguna atau sia-sia. Saat itu pula kalian akan menemukan jawaban apakah kalian berada di pihak yang menang atau kalah. Dan, aku juga tahu, kata-kataku ini pun akan kalian perdebatkan kembali, bahkan sambil menendang kursi, melempar botol minuman, mencaci-maki, serta mengeluarkan kata-kata kotor."

"Ayo mulai!" Terdengar teriakan keras.
"Kita sudah dikepung banjir!"
"Hampir tenggelam!"
"Bongkar!"

Dengan cepat orang-orang itu mengayunkan peralatannya masing-masing. Cangkul, sekop, linggis, dan ganco, dengan gesit menembus tanah. Sungai yang terletak di bawah pelataran patung itu akan digali kembali. Mereka lakukan itu dengan cepat dan semangat. Mereka berpacu dengan waktu. Banjir semakin menggelontor. Teriakan di sana-sini terus terdengar. Dibuatlah tanggul secara melingkar. Fondasi patung itu digali beramai-ramai. Air yang menggenang di galian dikuras. Beberapa saat kemudian patung itu didorong. Belum juga goyah. Bangunan patung itu ternyata memakai fondasi cakar ayam. Maka, galian pun diperlebar. Teriakan-teriakan makin keras terdengar. Terlihat seorang naik ke pundak bangunan. Tambang besar kemudian diikatkan ke leher patung. Sementara yang lain menarik tambang itu ke arah utara.



"Ayo, tariiik?!" Terdengar komando.
Tambang itu pun ditarik bersama-sama. Masih alot. Galian diperdalam lagi. Hujan masih menggila. Banjir makin meluas. Kendaraan di jalan sudah tampak seperti perahu. Cuaca amat dingin, namun orang-orang semakin terlecut kerjanya. Terdengar kembali teriakan-teriakan. Mereka yang berada di bawah patung berlarian menjauh.

"Satu?dua?tiga! Tariiik?!!!"
Kepala patung terlihat mulai bergerak. Orang-orang makin bernafsu. Sedikit demi sedikit bangunan itu mulai bergeser dari tegaknya. Sekarang condong ke utara. Tenaga makin dikerahkan. Patung itu tampak oleng. Bersamaan dengan teriakan-teriakan yang makin keras patung itu pun tumbang ke arah utara dengan bunyi mendebam. Orang-orang pun bersorak. Sungai yang melintas di bekas bangunan kemudian dibedah. Air pun menerjang.

Esok paginya, traktor besar mengusung patung itu ke arah selatan kota. Kondisi berhala itu masih utuh dari ujung kepala hingga fondasi. Benda itu diusung dalam posisi telentang. Sementara kedua tangannya terlihat menengadah ke langit seperti hendak mengadukan nasibnya. Orang-orang melihatnya sepanjang perjalanan. Entah siapa yang menggores, di tubuh patung itu terbaca sebuah tulisan: "Berdebatlah terus di garis batas pernyataan dan impian" 2).

Hudat, Bihat, Benis, Muhid, dan Mariani menatapnya dari balik pagar. Paisi berdiri di tikungan. Sementara di perempatan jalan terlihat Pak Tais, Waidi, dan Wowo bersedekap tangan. Bunyi traktor terdengar gemeretak mengeremus kerikil sepanjang jalan. Konon patung itu akan ditancapkan di pinggir kolam renang di perbatasan kota. ***



Catatan:
1) Disadur dari baris sajak "Kapak Ibrahim Hamba" karya Emha Ainun Nadjib
2) Disadur dari baris sajak "Krawang-Bekasi" karya Chairil An