Kamis, 18 November 2010

buncit 12




Sore itu, di halte bus Buncit 12, tiba-tiba saja hujan turun dengan lebatnya. Aku yang tadinya memperkirakan selamat dari hujan dalam perjalanan pulang dengan motor ke Pasar Minggu, terpaksa buru-buru berbelok dan berhenti di halte bus Buncit 12. Buru-buru pula aku turun dari motor untuk berteduh di bawah naungan atap halte.
"Hei!" Aku kaget, tak sengaja kakiku mengenai sesorang yang agaknya juga buru-buru untuk berteduh di sana.
"Maaf...," kataku sebelum sempat melihat orang yang kukenai, tapi aku yakin dia seorang wanita, berdasarkan suaranya. Aku buru-buru berbalik dan sekali lagi meminta maaf. Aku melihat dia mengusap tangannya yang tersenggol kakiku sambil bersungut-sungut. Badannya agak kurus, mukanya pucat, tapi tatapan matanya itu....
"Hei... Lind...da...," kataku kemudian tercekat. Aku membuka helmku buru-buru. "Linda...," kataku lagi senang. Jelas kulihat sekilas di wajahnya rasa senang, tapi kemudian tiba-tiba tak berekspresi, lalu cepat berubah cuek, bahkan berpaling. Apakah aku salah orang? Perasaan malu pun menerkamku. Apakah aku salah orang?
"Jangan sok kenal, deh, lihat-lihat orang, dong!" Ia kembali bersungut-sungut tanpa memandangku, malah menunduk dan sedikit memalingkan muka. Apakah aku salah orang?

Di tengah deru mobil dan gemuruh suara hujan, aku terpaku. Diam-diam, aku mencoba menegaskan kembali wajah itu. Benar! Wajah itu begitu kukenal, bahkan masih sering kukhayalkan meski sudah 20 tahun yang lalu aku begitu dekat dan amat mengaguminya: bibir itu dan tatapan senang yang tadi sempat kusaksikan sekilas. Apa ada orang semirip ini?
Tapi, bagaimana aku lupa tatapan indah itu? Bagaimana aku lupa lembutnya bibir itu? Dua puluh tahun yang lalu... kami sama-sama terduduk setelah beradu ketika buru-buru naik bus kuning di kampus UI Depok menuju Sastra.
"Heh eh..."
"Wadaw..."

"Maaf, maaa...af... aku nggak sengaja..."
"Eee..."

"Maaaf... suwer, aku buru-buru, telat nih, sorry, deh." Aku terus meminta pengertiannya karena telah menyebabkan dia terjengkang karena aku benar-benar buru-buru. Kalau aku tidak mengejar dan seruduk naik bus kuning saat itu, paling tidak aku menunggu lima menit lagi untuk sampai di kampus Sastra. Padahal aku sudah hampir telat, bisa-bisa aku terlambat memulai ujian kajian sastra hari itu.


"Emangnya elu doang yang telat, yeee... Gue juga mau ujian tahu...."
"Ya... iya sama, maaf deh, sungguh..." Aku tak berani lagi berkata. Sambil merapi-rapikan ransel buku, sekali-sekali aku meliriknya yang juga merapi-rapikan tasnya. Ah, cakep juga, kataku dalam hati. Ah bodo, aku kembali fokus pada ujian yang beberapa menit lagi dimulai.

"Aahh... selesai sudah, Jooook...," kataku pada temanku, sembari menghempaskan diri di bangku panjang balsem di bawah pohon karet di belakang kambus Sastra. Seperti biasa, sambil menghempaskan diri aku lalu mengangkat kaki tinggi-tinggi dan berbalik. Tapi kali ini hempasanku kurang pas sehingga aku justru terjatuh dengan kaki terjungkal ke belakang.

"Wadaw...."

"Aduah... mmmaaf..."
"Eh, lu lagi... Iiih, sialan, lu..."
"Maaf...."

"Sakit, tahu..."
"Maaf...," kataku, sambil terus nyelonong hendak mengusap lengannya yang kena kakiku tadi.

"Ee. eeh... malah megang-megang!"
"Bu bu kan...."
"Ah.. lu Ron, bilang aja mau megang ha ha ha," tiba-tiba temanku nyela sambil tertawa diikuti yang lain.
"Maksudku... aku benar-benar..." "Ah dasar lu... Namanya Sinta tu, langsung aja," kata Romi menimpal. Aku kehabisan akal. Mukaku rasanya panas, aku yakin wajahku memerah. Tapi aku senang, Sinta, kalau memang itu namanya, wajahnya juga memerah. Ia tertunduk malu, lalu pergi menarik tangan temannya. Aku kemudian terpana memandangnya pergi.
"Woy... alaaah playboy cap kampak lu, pura-pura terpesona, Namanya Sinta, anak China tuh."

"Oh ya... oooo." Aku duduk tak berkata-kata. Aku jadi membayang-bayangkan Sinta, kalau memang itu namanya. Kok dua kali?
Dan, sejak itu hidupku pun berubah. Benar-benar aneh, sepenjang hari pikiranku dipenuhi bayangan Sinta, sampai berbulan-bulan. Bahkan, sampai seperti setengah gila, aku kadang-kadang tak sadar menyebut-nyebut namanya.
Tak dapat kusangkal, aku semakin parah ketika dia terang-terangan menolakku ketika aku bersusah payah mengutarakan perasaan kepadanya. Seolah-olah dunia ini selesai sudah. Aku tak pernah lagi konsen kuliah. Setiap ada kesempatan, aku selalu memandangnya dari jauh, bagai seorang pengemis.
Namun, setiap aku mendekatinya dia tetap menjauh, bagai aku ini pesakitan yang menularkan wabah. Sampai suatu saat aku memutuskan berbuat nekad, benar-benar nekad: menuturkan semua dengan titik bening berbulir dari mata hati apa adanya. Di rumah kosnya, tanpa malu kutumpahkan kasih kerinduan yang terantuk-antuk. Dan... jatuhlah juga keibaan Sinta, atau memang telah ada sejak lama tapi ditutupi rapat sekali. Perlahan pintu itu berderik lembut, menyeruakkan cahaya di baliknya, yang terasa telah lama menunggu. Selanjutnya, cahaya itu segera membuka dan aku jatuh lumat ke dalam kenikmatannya.... Bayangkan rasanya, "Aku... ju..ga... suka...," katanya pelan waktu itu, menunduk, tanpa menatapku.
Sore itu, setelah kuliah selesai, aku menunggunya di Kantin Sastra. Kira-kira pukul tiga sore dia muncul begitu anggun. Itu mungkin karena aku sudah begitu makin dalam menyukainya. Semua tampak indah.
Tapi agak aneh, wajahnya memperlihatkan bayangan kesedihan yang ditutupi. Ah, biarlah. Senyumnya, yang saat itu agak terasa dipaksakan, telah memabukkan aku yang sudah teramat dalam jatuh cinta, yang membuat aku tak peduli.
"Hai... sudah lama ya."
"Wow...."

"Ih... apanya yang waw...."
"Wow...." Wajah dan senyum itu kembali menyilaukan aku. Dia lalu menunduk. Rambutnya yang panjang jatuh menutupi sebagian wajahnya.
"Setiap aku memandangmu, aku jatuh cinta lagi," bisikku dekat telinganya yang tertutup rambut, wangi.
"Ihh... gombal." "Sunguh!"
"Mmmm... dah taaau..." katanya lembut. "Jadi kita ke...."
"Ke mana saja... aku akan ikut... asal... bersamamu," cepat aku masih mengubar perasaan.

Aneh, tiba-tiba dia mengangkat muka pelan, menatapku dalam, seakan ada yang memberatkan pikirannya. Aku masih melayang, tak peduli duka itu. Kemudian dia pelan menunduk.

"Oke, ayo," kataku sambil meraih lengannya. "Kita berangkat." Kemudian kami berjalan bergandengan, rasanya dunia milik kami, paling tidak yang kurasakan sendiri.
Benar, saat itu aku hanya mengusap-usap perasaanku, tanpa sedikit pun mengempati kegundahan yang tersembunyi pada sikapnya. Sampai di kosnya, bagai serigala lapar, aku melahap segala yang tersedia, melumat gelora bersama angin tanpa perasaan. Aku benar-benar egois. Sampai akhirnya desah dan tangis kecil yang ditutup-tutupi memecah puncak pemenuhan hasratku.
Kami terhampar luluh di kamar itu, di atas lembut bunga-bunga penghias peraduan gadis muda belia. Kami saling berpandangan, saling menatap dalam hingga menembus jauh ke hati. Senyumnya mengembang, aku senang, tapi tak ada kata-kata yang mampu kuucapkan.

"Kamu puas, sayang," katanya. Aku tak langsung menjawab, karena memang tak bisa menjawab lantaran ada yang janggal dari kata-kata dalam pertanyaan itu. Agak lama.
"Ya... kamu, Say?" aku akhirnya menjawab juga. Tiba-tiba ia memelukku erat sekali. Aku merasakan gemuruh tangis, meski tak ada suara.
"Ada apa, Say..."
"Nggak ada apa-apa, aku juga senang...," katanya lembut sekali tertahan. Kami pun berpandangan lagi, lalu berpelukan, lama, lama sekali, hingga akhirnya jatuh tertidur.
"Linda... bukankah kamu Lind...da...," kataku pelan, hati-hati sekali, mendekati wanita di Halte Bucit 12 itu. Kulihat dia cemas, tapi dia tetap tenang seolah-olah tak mendengar. "Boleh aku...."
"Eh, siapa sih Linda? Linda-linda?" Anehnya dia tak berani memandang ke arah aku. Suaranya agak serak. Aku makin yakin ini Lindaku. Perasaanku jadi tak menentu. Sudah bertahun-tahun aku mencarinya sejak aku terbangun dari tidur di rumah kos Linda 20 tahun lalu.
"Sudah dua puluh tahun, aku tetap mencarimu... sejak kamu tinggalkan aaak...." Tiba-tiba dia memandangku sekejab, wajahnya pucat. Tiba-tiba bangkit dan lari menerobos hujan dan meloncat ke metromini yang lewat.
Seperti ada kaitan, metromini pun tancap gas. Aku terpana, terdiam kaku. Tak lama kemudian aku tersadar. Itu pasti Linda, Lindaku, wajahnya, bibirnya, gerakan tubuhnya. "Linda, Linda, Lindaaaa.... Ada apa, Linda..." Air mataku berjatuhan bersama hujan. ***
*

BERSAMA KUPU-KUPU, NUKE TERBANG




Apa pun jenis kupu-kupu, siklus kehidupannya seperti ini: telur, ulat, kepompong dan akhirnya bermetamorfosa, menjadi kupu-kupu! Meski banyak orang jijik melihat ulat, tapi mereka menyukai kupu-kupu.

Nuke ingin mendirikan home stay, setelah merasa jenuh bekerja selama hampir 15 tahun di perusahaan asing. Di meja makan ini, Nuke bilang kepada suami, anak-anak dan semua handai taulan, "Rumah peninggalan Mami ini akan kubuat home stay saja. Dengan begitu, aku bisa tetap bekerja dan sekaligus mengawasi anak-anak."

Semua mengangguk-angguk. Memang rumah tua ini cocok untuk home stay, karena halamannya luas dan asri (rumah semodel ini sudah jarang ada di kota Malang). Dari studi banding yang dilakukannya di beberapa home stay yang semodel dengan rumahnya, sekarang punya daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara dari negeri Belanda yang ingin melihat bangunan di zaman Hindia–Belanda yang digarap oleh Thomas Krasen pada tahun 1914.

Namun, setelah berminggu-minggu, dibukanya home stay ini tak ada seorang pun tamu yang menginap di home stay itu.

Padahal, dia sudah mengiklankan di koran lokal, internet, dan radio-radio swasta. Apa yang menjadi keistimewaan dari home stay ini, yaitu suasana Hindia-Belanda tampak terpancar di setiap sudut rumah ini.

Suatu malam, ketika duduk sendirian di teras, dengan perasaan senyap, tiba-tiba Nuke teringat ucapan almarhum Mami, "Hari ini ada banyak sekali kupu-kupu di halaman kita. Pertanda akan banyak tamu ke rumah. Bisa jadi saudaraku atau saudara Papimu akan datang."

Kemudian secara bergegas, Mami menanak nasi lebih banyak dari biasanya dan menyuruhnya (pada waktu itu dia sudah berusia 12 tahun dan duduk di kelas satu SMP), ke warung sebelah untuk membeli telor, tempe, minyak, lombok. Dan Mami selalu bilang, "Kalau saudara-saudara kita datang, mereka kan dari luar kota, kita harus menjamu mereka dengan makanan. Namun, hari ini aku malas ke pasar, lauknya ditambahi telor yang dilomboki saja."

Waktu itu, dia merasa Mami bahagia sekali.... Konon, ketika dia berusia delapan tahun, Papi pergi, tak pernah kembali! Menurut Mami, Papi-nya menderita amnesia. Bisa jadi tidak tahu jalan pulang ke rumah atau Papi sudah meninggal! Masih menurut Mami, Papi kadang-kadang datang dalam bentuk lain, menjadi kupu-kupu dan mengisyaratkan cintanya pada dia dan Mami. Mami juga bercerita, kalau ada sepasang kupu-kupu, mereka dahulunya adalah sepasang kekasih. Ketika Nuke menanyakan, "Apakah Mami dan Papi akan menjadi sepasang kupu-kupu?"

"Nduk, sekalipun pada waktu itu, kami sudah menikah selama 10 tahun, tetap seperti sepasang kekasih. Bisa jadi, aku dan Papimu akan menjadi sepasang kupu-kupu, atau mungkin juga tidak. Yang penting hari ini, aku harus bekerja keras, agar kau bisa sekolah dengan nyaman."

Waktu itu, dia merasa kecewa, terpikirkan olehnya, Mami tidak pernah memiliki cinta itu lagi. Dia selalu ingat ucapan Mami itu. Namun, dia berpikir apakah dengan isyarat kupu-kupu itu, para tamu akan berdatangan ke home stay-nya, seperti ketika dia masih kecil. Yah di halaman rumahnya hampir tidak ada kupu-kupu lagi yang beterbangan seperti di masa kecilnya! Banyak orang bilang, itu karena polusi udara atau mungkin Mami dan Papi-nya merasa tidak perlu datang lagi untuk mengirim cintanya, karena dia sangat mencintai suami dan anak-anaknya.

Dia menceritakan itu di meja makan kepada anak-anak dan suaminya. "Ma, kalau begitu kita harus mendatangkan kupu-kupu di kebun kita, agar kupu-kupu itu berdatangan lagi bersama cinta Kakek dan Nenek dan para tamu home stay. Coba saya carikan di internet, bagaimana mendatangkan kupu-kupu di kebun kita."

Kemudian, Nuke membaca dari internet, bagaimana caranya membudidayakan kupu-kupu. Kamu dapat mendatangkan kupu-kupu di kebunmu dengan umpan, makanan, tumbuhan (tumbuhan dan bunga), air, perlindungan dan tempat untuk meletakkan telur. Kupu-kupu itu akan mengisap sari pati madu dari bunga, kemudian setelah bertelur akan menjadi ulat yang sangat rakus memakan daun-daunan. Dan ulat-ulat itu menjadi kepompong, kemudian menjadi kupu-kupu. Yang betina akan betah bertelur di kebunmu.

Nuke mencoba mengikuti apa yang tertera dalam tulisan itu, melakukan hal-hal yang disarankan. Tiba-tiba Nuke ingat masa kecilnya, kala bermain-main di halaman rumahnya ini, sendirian saja. Karena merasa harus pergi jauh. Ketika Mami memarahinya atas kesalahan yang sampai sekarang tidak pernah dimengertinya. Ada kupu-kupu bagus hinggap di pundaknya, Nuke merasa yang datang itu Papi-nya yang sedang menghibur dirinya. Melihat kupu-kupu itu, sering sekali dia memimpikan terbang dan bersayap seperti kupu-kupu. Di kerajaan kupu-kupu, dia bertemu lagi dengan Papi yang dirasanya waktu itu bisa melindunginya dari kemarahan Mami. Papi mengajarkan kepadanya bagaimana memberi dan menerima isyarat cinta itu. "Kalau kau sudah dewasa, jadilah orang yang bisa mencintai. Yah, seperti sepasang kupu-kupu yang berputar-putar di halaman ini."

Sesungguhnya, baru sekarang dia tahu bahwa kupu-kupu itu berimigrasi jauh sekali. Dari satu benua ke benua yang lain. Jenis luar biasa ini (kupu-kupu raja) hidup di Kanada bagian selatan. Mereka bisa berimigrasi ke California atau lebih ke selatan lagi yaitu Meksiko. Semua kupu-kupu jenis raja ini bertemu satu sama lain di sepanjang perjalanan. Mereka tidak memulai perjalanan dalam sembarang hari. Tapi pada satu hari tertentu di musim gugur, yaitu ketika siang dan malam memiliki panjang waktu yang sama.

Setelah membaca artikel ini, keinginannya agar kupu-kupu berdatangan semakin lebar. Karena setiap kali dia bermimpi dia bisa pergi terbang jauh, bersama kedua orangtuanya.

Nuke kemudian menanam bunga-bunga yang di rasanya penuh madu, agar kupu-kupu itu segera berdatangan dan betah di kebunnya.

Hari-hari selanjutnya, home stay Nuke tidak juga didatangi oleh seorang tamu pun dan bahkan tidak juga oleh kupu-kupu. Padahal, kalau dibanding dengan home stay lain, tempatnya tidak kalah menarik. Rumah tuanya, menjadi sangat artistik dengan ditata sana-sini, persis seperti zaman kolonial Belanda.

Suaminya mengusulkan untuk membuat iklan di mana-mana lagi. Dan Nuke punya ide untuk menangkar kupu-kupu saja di halaman rumahnya. Dia mendapat sepasang kupu-kupu yang menurut penjualnya, adalah jantan dan betina. Dia ingin mengawinkan kupu-kupu itu. Ketika itu juga dibacanya dengan penuh semangat pendapat ahli biologi di universitas Buffalo (AS). Kupu-kupu betina lebih memilih pasangan kawinnya yang memiliki pupil atau titik putih pada sayapnya. Sebaliknya, bentuk ornamen sayap, warna dan ukurannya tidak terlalu dipedulikan oleh kupu-kupu betina.

Nuke, menaruh kedua kupu-kupu itu di sangkar, tapi kelihatan kedua kupu-kupu itu tidak melakukan apa pun. Sehingga, Nuke memutuskan untuk membuka sangkar itu dan membiarkan mereka secara alamiah saja, meletakkan kedua kupu-kupu itu pada bunga yang di rasanya penuh sari pati madu. Berhari-hari kedua kupu-kupu itu masih berada di sana, pada hari ketiga pagi ini, dia melihat kedua ekor kupu-kupu itu tiba-tiba sudah terbang tinggi di atas kepala Nuke, terbangnya jauh sekali meninggalkan Nuke, rumah dan kebun ini. Untuk sesaat, Nuke merasa sedih dan suaminya bilang begini, "Kau tahu yang memberi rezeki itu Tuhan, bukan kupu-kupu. Jika kau suka pada kupu-kupu terserahlah, untuk menghilangkan stres agar kau tidak memarahi aku dan anak-anak."

"Apakah, aku harus balik kerja? Perusahaan itu masih memberikan peluang padaku, karena mereka tidak cocok dengan penggantiku yang baru."

"Kau kan sudah setengah jalan mengapa harus mundur, itu bukan watak seorang Nuke. Kau sendiri bilang, Mamimu mulai dengan sebuah toko kecil di rumah, sebelum ada toko lain di pusat kota. Dan kamu kan sudah berniat menjadikan kebun ini menjadi rumah bagi kupu-kupu."

Nuke kembali membaca beberapa artikel yang didapatnya dari browsing. Sekali lagi, dibacanya bagaimana beternak kupu-kupu di kebunnya. Dia merasa sudah melakukan petunjuk-petunjuk yang ada dalam artikel tersebut. Namun, belum juga tampak hasilnya.

Kemudian Nuke merasa memiliki ide yang cemerlang lagi. Kalau belum juga kupu-kupu datang di kebunnya, dia ingin menghiasi kebunnya dengan kupu-kupu buatan. Oleh karena itu, dia meminta tolong temannya yang perajin kayu, untuk membuatkan kupu-kupu dari kayu. Nuke memberi contoh dari 150.000 jenis kupu-kupu, hanya yang pernah dilihatnya, di kebun waktu masa kecilnya, itu saja yang ingin dibuat tiruannya. Di mana kupu-kupu itu, pasti Papi dan Maminya yang mencintainya dan datang hanya untuk mengucapkan perasaan cintanya.

Perajin itu membuat beraneka spesies kupu-kupu dengan sangat memuaskan Nuke. Pagi itu juga dia memasang seluruh kupu-kupu dari kayu di halaman home stay-nya. Suami dan anak-anaknya menganggap kupu-kupu buatan itu, kalau dari jauh sangat mirip dengan yang asli.

Besoknya ada tamu pertama yang datang. Tamu itu sekeluarga dengan dua anak laki-laki yang mungkin masih duduk di sekolah dasar. Kegembiraan Nuke menjadi lenyap, ketika dia tahu setelah tamu itu pulang. Kupu-kupu buatan itu hampir semuanya rusak karena ulah kedua anak tamu itu.

Nuke kemudian meminta kepada perajin kayu untuk membuatkan lagi kupu-kupu kayu yang sudah dirusak oleh anak-anak tamu itu. Menurut perajin itu, bahan baku kayu semakin sulit, sehingga tidak bisa memenuhi permintaan Nuke secepatnya.

Dengan kesal, Nuke mencoba mencari kupu-kupu yang masih utuh. Dari sekian puluh kupu-kupu itu, Nuke hanya menemukan sepuluh kupu-kupu yang masih utuh. Dengan sedih ia menaruh kupu-kupu itu di setiap sudut rumahnya. Namun setelah itu, ia melupakan ide-idenya tentang kupu-kupu itu. Karena, tiba-tiba tamunya begitu banyak. Dan suaminya bilang, "Nuk, ini bukan karena kupu-kupu, rezeki ini dari Tuhan."

Nuke, mengangguk-anggukkan kepala, dia merasa menjadi sesuatu lagi, ketika kamar-kamar home stay-nya dipenuhi banyak tamu. Kali ini, dia merasa harus memeriksa kebun-kebunnya yang sudah dipenuhi lagi oleh kupu-kupu buatan perajin itu.

Nuke tercengang, pagi ini dia merasa orang yang paling bahagia. Di seputar pohonnya, banyak sekali kepompong yang bergantungan dengan sebuah tali.

Kupu-kupu yang berwarna-warni itu, beterbangan di kebunnya dan ketika isyarat cinta itu datang lewat kupu-kupu, Nuke sedang sibuk melayani tamu-tamunya!***

BERHALA DI HUTAN KAYU


BERHALA DI HUTAN KAYU


Dengan kapak berkilat-kilat lelaki itu mendekati patung di pusat kota. Meski usianya sudah tidak muda lagi, langkahnya masih tampak perkasa dan semangatnya membara. Butir-butir keringat di kening berkilauan memantulkan sinar matahari. Dari balik kaca mata bening yang dikenakan, sorot mata lelaki itu menyiratkan keyakinan berlipat.

"Telah ditanamkan sampah di kota-kota peradaban. Dan inilah kapak Ibrahim hamba!" 1) katanya sambil mengacungkan benda itu ke arah langit.

Patung sosok perempuan itu berdiri menjulang. Rambutnya panjang mengurai. Telapak kakinya menumpu di pelataran beton, sementara kedua tangannya membuka seperti tengah menyambut orang yang akan memeluknya. Bagian-bagian tubuh patung itu tergambar dengan detail. Tanpa ada yang disembunyikan. Di tengah kota yang megah, patung itu hadir tanpa busana sesobek pun.

Di depan patung, dengan jarak tak lebih dari seratus meter, terdapat masjid besar kebanggaan warga kota. Posisi patung benar-benar berhadapan dengan pintu masjid. Antara keduanya dipisahkan oleh tanah lapang. Setiap orang yang datang dan pulang dari masjid pasti berpapasan dengan patung tersebut. Kondisi ini sudah lama menjadi bahan pembicaraan. Tapi hingga hari ini belum ada keputusan.

"Jadi, Pak Tais akan memulainya sekarang?" tanya Waidi.
"Tunggu apa lagi? Kita memang telah merdeka. Tapi itu bukan segalanya. Gerakan Syahwat Merdeka mau mengikis habis budaya malu!" jawab lelaki yang dipanggil Pak Tais itu bersemangat.

"Memang," Waidi mengangguk-angguk, "nilai-nilai kesucian yang ditegakkan dengan susah payah selama berabad-abad oleh para nabi, wali, dan orang-orang saleh mau diruntuhkan."

"Kita tidak mencari sensasi. Dari Ibrahim sampai sekarang tugas kita adalah menghancurkan berhala kemungkaran dengan tangan, mulut, dan hati kita!"

Keduanya berjalan ke arah patung. Cuaca sangat panas, tapi di atas sana terlihat mendung menggantung sebagai pertanda akan hujan. Di kejauhan sudah terdengar ada geluduk. Awalnya memang tak ada yang tahu rencana pembangunan patung tersebut. Tiba-tiba saja kawasan yang dikenal sebagai Hutan Kayu ini dibabat dan dipagari seng keliling. Konon ada tiga belas aliansi yang melakukan aktivitas di dalamnya. Dari dalam pagar itu sering keluar-masuk beberapa Perempuan Ayu. Tak jelas, apakah para Perempuan Ayu itu ikut tidur di situ atau tidak. Baik yang laki maupun perempuan, omongan mereka kerap terdengar sangat jorok. Di dekat tempat itu bahkan pernah ditemukan buku-buku cerita yang kelewat jorok serta kumpulan puisi dengan gambar alat kelamin di sampul depannya.

Pada suatu hari, saat pembangunan masih berlangsung dahulu, dua laki-laki bernama Ahmad dan Rada yang mulanya bekerja di situ menyatakan mengundurkan diri secara terbuka. Keduanya menyatakan tidak sepaham dengan aliansi di dalam. Dengan mundurnya dua orang tersebut semakin sempurnalah gerakan aliansi itu. Maka, kata-kata jorok pun semakin sering terdengar di situ. Beberapa bulan setelah itu pagar yang mengelilingi Hutan Kayu itu dibongkar. Bonggol-bonggol kayu masih tampak di sana-sini dengan ketinggian sekitar satu meter. Terlihat ada bangunan yang masih diberi selubung di kawasan tersebut. Banyak yang penasaran menanti selubung itu dibuka. Dan, benar, tiga hari setelah itu selubung pun dibuka. Ternyata dia adalah patung telanjang! Itulah yang menyulut Pak Tais mengasah kapaknya.

Terlihat seorang lelaki, Hudat namanya, dengan langkah terburu-buru mendekati Pak Tais dan Waidi dari arah belakang.

"Kau tidak bisa menghancurkan patung dengan mengatasnamakan Tuhan atau agama dengan tafsir seperti itu!" Hudat melontarkan kata-katanya dan menuding-nuding. Pak Tais mengeryit dan meninggikan kaca matanya.

"Terus?" Pak Tais menyela sambil mengangkat kapaknya. Dia memandang ke lelaki yang rambutnya dicat merah itu.

"Justru patung itu tercipta sebagai pancaran dari ayat-ayat Tuhan."
"Ya, itu benar!" seorang perempuan bernama Mariani yang datang menyusul Hudat ikut menimpali. "Dan kami sudah sepakat sebelum berkarya bersama."

Tiba-tiba datang lagi lelaki bernama Paisi ke kerumuman itu. Tubuh lelaki ini kecil tapi dia menampakkan keberanian juga. Mata Paisi memandang ke kerumunan itu secara bergantian. Kali ini menancap tepat ke kening Hudat. Paisi dengan cepat melompat ke bonggol kayu dan berdiri di atasnya.

"Kamu paham dengan yang kamu ucapkan tentang ayat-ayat Tuhan? Jangan sembrono! Tuhan telah memberi contoh simbol dan metafor untuk mengungkapkan banyak hal," Paisi menuding muka Hudat. "Pertentangan kalian adalah mencerminkan ciri zaman, di mana kaum muda yang progresif berhadapan dengan kaum tua yang merasa mapan!"

"Maaf," Pak Tais memotong sambil menempelkan kapak ke dadanya, "ini bukan perkara generasi, tapi perkara tanggung jawab moral terhadap bangsa!"

"Apa bukan karena selama ini Anda sering diundang ke sekolah-sekolah?" Benis, yang ternyata baru datang di belakang Hudat, nyeplos juga bicaranya.

"Itu wujud tanggung jawab kami untuk ikut membangun generasi muda di sekolah."

"Menyebalkan!" Benis melengos.
"Kita sudah terlalu jauh meninggalkan nilai-nilai agama," Pak Tais menjawab lagi.

"Jangan pakai pendekatan agamalah! Ini urusan seni!" terdengar suara membelah. Ternyata Sitompu yang baru muncul ikut menukas.

"Oke kalau nggak boleh," Pak Tais menurunkan nadanya, "sekarang bagaimana reaksi Anda andaikata yang dibuat patung telanjang itu adalah sosok ibumu? Malu apa ndak kalian?"

Suasana sepi beberapa saat. Tak ada yang bicara. Pak Tais menatap wajah-wajah yang mengelilingi dirinya. Udara terasa makin gerah karena ada mendung menyumpal di langit. Bunyi geluduk terdengar makin kerap. Angin tiba-tiba menerpa mengusung gulungan-gulungan debu ke arah mereka. Terdengar kata-kata kotor meluncur.

"Kalian sudah over dosis. Kalian menginginkan kebebasan, tapi di saat yang sama kalian justru kehilangan rasa malu sehingga berani mempertontonkan kemaluan sendiri. Ini sudah maniak!" Pak Tais kembali menandaskan.

"Kita berada dalam ruang kreatif yang berbeda dan tak bisa dipertemukan. Mestinya kita saling menghargai," Mariani kembali menimpali.

"Itu kalau Anda hidup sendiri. Ini ruang publik. Jadi tak ada yang bebas nilai. Setiap orang punya rasa tanggung jawab pada kepentingan umum," Waidi menuding ke Mariani.

Mariani mendelik ke arah Waidi. Perempuan itu dengan cepat melompat ke bonggol kayu dan berkacak pinggang. "Apa kamu kira kami tak punya tanggung jawab!"

"Tanggung jawab kalian hanya sebatas tanggung jawab kreatif individual. Tapi tak menyentuh tanggung jawab sosial. Sementara patung itu kalian pajang untuk dilihat masyarakat. Itu namanya egois. Sama saja dengan membuang limbah ke tengah perkampungan!" Pak Tais kali ini menaikkan tensi omongannya.

Mariani dengan cepat meloncat turun. Dia dan yang lain segera ambil posisi mengelilingi Pak Tais dan Waidi sambil berputar-putar. Kedua lelaki yang merasa dikepung itu ikut berputar sambil mengawasi langkah demi langkah. Sementara Hudat yang napasnya terlihat ngos-ngosan akan merebut kapak di tangan Pak Tais.

"Semakin bernafsu kalian merebut benda ini, saya akan semakin berusaha keras mempertahankan," Pak Tais, sambil tersenyum, menggenggam kapaknya makin erat. Dia menoleh ke kiri ke kanan, dilemparkannya kapak itu ke udara, kemudian ditangkapnya kembali dengan tangan kiri seperti hendak mempertontonkan kepiawaiannya.

"Jangan kau teruskan niatmu!" Benis menuding kencang.
"Tak ada yang dapat memenjarakan niat kami," Waidi menepuk-nepuk dadanya. Dengan sekali hentakan dia pun telah berada di atas bonggol kayu. Kumis dan rambut keritingnya tampak makin tebal. Terdengar mendung menggelinding di atas kepala. Cuaca meredup.

Sekonyong-konyong perhatian mereka terbelah. Terlihat seorang lelaki berlari mendekat sambil berteriak-teriak. Ternyata dia adalah Muhid. Dia segera membelah kerumunan dan berdiri tepat di depan Pak Tais.

"Kau? akan menghancurkan patung itu??" Muhid terbata-bata. "Persis seperti aksi si komunis Njoto menentang yang cabul-cabul dulu. Sekalian tiru saja dia!"

"Aha, dulu kau pernah bilang gerakan komunis masih remang-remang. Sekarang, Bung, kau omongkan itu dengan fasih. Ada hubungan apa kamu?" Pak Tais manggut-manggut. "Kau sudah baca buku-buku sejarah?"

"Tentu!"
"Ketahuilah Bung, komunis melakukan propaganda itu karena ambisi politik dan ingin merebut kekuasaan. Toh akhirnya mereka melakukan pembunuhan masal. Kami sangat jauh dari itu. Niat kami hanya karena Allah."

Muhid tak menjawab. Sekarang dia memepet Pak Tais dan memegang lengannya. Mata keduanya bertatapan. Waidi meloncat turun dari bonggol. Dengan tak kalah beraninya Waidi ikut menghadang. Kali ini dia merebut posisi Pak Tais dan ganti mengadu dada dengan Muhid. Sementara Paisi terlihat canggung dan agak takut. Di sebelahnya Hudat berkacak pinggang tinggi-tinggi.

"Ketahuilah!" Waidi menggeretak, "siapa pun yang memperjuangkan hukum Tuhan memang banyak dimusuhi. Ibrahim dibakar dengan api, Musa dikejar-kejar oleh Firaun, Isa disiksa, dan Muhammad dilempari dengan batu dan kotoran."

"Apa-apaan, jangan sok suci!" terdengar suara memotong. Ternyata Bihat datang juga. "Persetan semuanya!"

"Tuhan yang mengetahui hati kami," Waidi membalas.
Saat itu pula terdengar langkah mendebam-debam. Persis berbarengan dengan bunyi geluduk di langit. Kerumunan terhenyak dan mereka mengalihkan perhatian. Terlihat seorang lelaki berlari mendekat. O, ternyata yang datang adalah Wowo. Dengan napas seperti kuda Wowo membelah kerumunan. Dia langsung mengambil posisi Pak Tais dan Waidi. Ditatapnya mata mereka satu per satu. Bihat yang mencoba mendekat disepak minggir. Bihat tampak ketakutan dan mengusap-usap kepalanya yang gundul. Wowo, dengan jenggot yang lebat, tampak meradang dan berani. Dia pun berujar,

"Kalian jangan coba-coba mencemari budaya dan moral bangsa kami. Kami adalah Bumi Putra. Kalian agen imperialis yang menyebarkan virus budaya dan seks. Kalian menghancurkan peradaban! Nilai-nilai budaya kalian rusak. Maka jadilah kalian budak kebebasan yang tak berperadaban!"

Sontak Hudat menuding-nuding. Bibirnya kelihatan bergetar dan dadanya mengembang. Kata-kata pun meluncur darinya, "Kalian iri. Kalian telah kalah dalam pertempuran kreatif. Kalian tak mampu menandingi kami sehingga kalian menggunakan dalil-dalil moral untuk menyerang kami. Kuno!"

"Kami tidak akan menghalalkan segala cara!" Wowo ganti menuding. "Kalian telah menggunakan dana dari dewan kesenian untuk kepentingan sendiri. Temanku Saut juga pernah omong ini. Kalian telah mengelabuhi pemerintah dan rakyat!"

"Itu kata-kata khas orang yang tak mampu membangun network. Bisanya menuduh dan selalu curiga! Bilang juga sama Saut!" Hudat meloncat pula ke atas bonggol kayu dan menepuk-nepuk dada, "Ini Hudat!"

"Ketika hendak melaksanakan perintah Tuhan," Pak Tais menukas, "Ibrahim dan Ismail digoda oleh para iblis agar menggagalkan niatnya melaksanakan perintah Tuhan. Maka, Ibrahim pun melempari iblis itu dengan batu. Iblis lari terbirit-birit."

"Tapi, kami tak akan lari!" Hudat membalas dengan cepat.
"Karena rasa malu kalian sudah tergadai!"

"Apa maksudmu?" Mariani menuding.
"Pikirkan itu!" Waidi membalasnya.
Cuaca makin meredup. Terdengar geluduk menggelinding di atas ubun-ubun seperti batu-batu besar meluncur. Awan hitam berarak ke satu titik. Kilat pun terlihat membelah. Suasana dengan cepat menjadi gelap. Geluduk sontak pecah menggelegar. Mereka yang tadi berdebat berhenti dengan sendirinya. Ditatapnya langit yang pekat di atas kepala. Petir dengan ganas menyambar seperti pecut menghajar. Mereka pun berlarian. Beberapa saat setelah itu hujan seperti dicurahkan dari langit. Hutan Kayu dan patung itu terbebat hujan.

Hujan telah lama mengguyur Hutan Kayu dengan lebatnya. Sudah hampir dua jam, tapi belum ada tanda-tanda mereda. Tanah yang gundul itu mengalirkan air keruh hingga ke halaman masjid. Dulu, ketika pohonnya masih lebat, tak pernah terjadi seperti ini. Air hujan terus mengangkut berbagai kotoran ke halaman masjid. Kecemasan mulai merambat seiring semakin naiknya permukaan air. Ini juga terjadi gara-gara sungai yang melewati Hutan Kayu ditimbun untuk fondasi patung. Akibatnya, kini air meluber ke mana-mana.

Air menggenangi jalanan hingga setinggi lutut. Tak bisa dihindarkan. Kemacetan terjadi sepanjang ruas jalan. Klakson kendaraan meraung-raung. Banjir terus menggempur. Maka, mogoklah semua kendaraan. Teriakan-teriakan terdengar di sana-sini.

Apa yang terjadi? Terlihat warga sekitar mulai kehabisan kesabaran. Di bawah guyuran hujan, mereka beramai-ramai mendatangi Hutan Kayu dengan membawa berbagai peralatan seperti cangkul, linggis, sekop, ganco, parang, bahkan juga terlihat pedang, celurit, serta potongan-potongan besi. Mereka berteriak-teriak makin keras. Anggota mereka juga makin bertambah. Dengan kaki-kaki terendam air hingga paha, mereka mulai tiba di Hutan Kayu dan langsung mengepung patung. Berbagai senjata diacung-acungkan ke arah patung. Aba-aba pun diteriakkan.

"Stop! Hentikan!" tiba-tiba terdengar suara datang.
Orang-orang seketika menoleh ke belakang. Ada serombongan lain datang mendekat. Rombongan terakhir ini ternyata dimotori oleh Hudat beserta kawan-kawannya yang terlibat perdebatan sebelum hujan tadi. Mereka datang dengan melepas baju.

"Jangan coba-coba hancurkan patung!" teriak Hudat, "Kita harus bisa hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan! Hargai ekspresi dan karya orang lain!"

"Apa maksudnya?" salah seorang ganti bertanya.
"Jangan melihat persoalan secara hitam putih!"

Tiba-tiba Hudat melihat Pak Tais dan Waidi datang mendekat. Tidak ada lagi kapak di tangan Pak Tais. Sementara hujan belum menipis. Aliran air terasa makin deras karena gelontoran dari atas.

"Kau pasti yang menggerakkan orang-orang kampung itu!" Hudat menuding ke Pak Tais, "Kau telah memperalat dan menunggangi mereka!"

"Maaf Bung, kami sama sekali tidak melakukan itu."
"Kura-kura dalam perahu!" Bihat ikut menuding.

"Kau gunakan pengaruhmu untuk menghasut mereka!" teriak Mariani sambil menyingkap roknya hingga ke lekuk paha.

"Kau telah melakukan provokasi pada mereka. Sejarah berulang. Ketika akal sehat sudah melemah, cara culas akan ditempuh. Ingatlah kepicikan Ken Arok, Jaka Tingkir, Napoleon, atau Musolini!" Hudat makin kencang.

"Ditunggangi!" Benis berteriak.
"Kami tak kenal kamus tunggang-mengunggang," Waidi membalas.
"Mereka, orang-orang yang tak mengenal hakikat seni dan keindahan, tidak selayaknya dilibatkan dalam wilayah ini. Ini pembodohan!" potong Bihat.

"Maaf," salah seorang warga kampung ikut angkat bicara, "perdebatan kalian soal karya seni sudah selesai. Biar sejarah juga yang menjawabnya. Ketika roh kalian sudah tinggal di tenggorokan dan maut sebentar lagi menjemput, saat itulah kalian menemukan jawaban apakah yang kalian perdebatkan selama ini berguna atau sia-sia. Saat itu pula kalian akan menemukan jawaban apakah kalian berada di pihak yang menang atau kalah. Dan, aku juga tahu, kata-kataku ini pun akan kalian perdebatkan kembali, bahkan sambil menendang kursi, melempar botol minuman, mencaci-maki, serta mengeluarkan kata-kata kotor."

"Ayo mulai!" Terdengar teriakan keras.
"Kita sudah dikepung banjir!"
"Hampir tenggelam!"
"Bongkar!"

Dengan cepat orang-orang itu mengayunkan peralatannya masing-masing. Cangkul, sekop, linggis, dan ganco, dengan gesit menembus tanah. Sungai yang terletak di bawah pelataran patung itu akan digali kembali. Mereka lakukan itu dengan cepat dan semangat. Mereka berpacu dengan waktu. Banjir semakin menggelontor. Teriakan di sana-sini terus terdengar. Dibuatlah tanggul secara melingkar. Fondasi patung itu digali beramai-ramai. Air yang menggenang di galian dikuras. Beberapa saat kemudian patung itu didorong. Belum juga goyah. Bangunan patung itu ternyata memakai fondasi cakar ayam. Maka, galian pun diperlebar. Teriakan-teriakan makin keras terdengar. Terlihat seorang naik ke pundak bangunan. Tambang besar kemudian diikatkan ke leher patung. Sementara yang lain menarik tambang itu ke arah utara.



"Ayo, tariiik?!" Terdengar komando.
Tambang itu pun ditarik bersama-sama. Masih alot. Galian diperdalam lagi. Hujan masih menggila. Banjir makin meluas. Kendaraan di jalan sudah tampak seperti perahu. Cuaca amat dingin, namun orang-orang semakin terlecut kerjanya. Terdengar kembali teriakan-teriakan. Mereka yang berada di bawah patung berlarian menjauh.

"Satu?dua?tiga! Tariiik?!!!"
Kepala patung terlihat mulai bergerak. Orang-orang makin bernafsu. Sedikit demi sedikit bangunan itu mulai bergeser dari tegaknya. Sekarang condong ke utara. Tenaga makin dikerahkan. Patung itu tampak oleng. Bersamaan dengan teriakan-teriakan yang makin keras patung itu pun tumbang ke arah utara dengan bunyi mendebam. Orang-orang pun bersorak. Sungai yang melintas di bekas bangunan kemudian dibedah. Air pun menerjang.

Esok paginya, traktor besar mengusung patung itu ke arah selatan kota. Kondisi berhala itu masih utuh dari ujung kepala hingga fondasi. Benda itu diusung dalam posisi telentang. Sementara kedua tangannya terlihat menengadah ke langit seperti hendak mengadukan nasibnya. Orang-orang melihatnya sepanjang perjalanan. Entah siapa yang menggores, di tubuh patung itu terbaca sebuah tulisan: "Berdebatlah terus di garis batas pernyataan dan impian" 2).

Hudat, Bihat, Benis, Muhid, dan Mariani menatapnya dari balik pagar. Paisi berdiri di tikungan. Sementara di perempatan jalan terlihat Pak Tais, Waidi, dan Wowo bersedekap tangan. Bunyi traktor terdengar gemeretak mengeremus kerikil sepanjang jalan. Konon patung itu akan ditancapkan di pinggir kolam renang di perbatasan kota. ***



Catatan:
1) Disadur dari baris sajak "Kapak Ibrahim Hamba" karya Emha Ainun Nadjib
2) Disadur dari baris sajak "Krawang-Bekasi" karya Chairil An

BELENGGU SALJU

BELENGGU SALJU

Tak ada kepak gagak di Compton yang selalu menguarkan bau sampah busuk, anggur murahan, dan bangkai manusia yang disembunyikan di ghettos atau rumah-rumah besar yang mengonggok tanpa lampu. Juga tak ada salju atau angin santer yang membekukan tiang listrik atau menggigilkan para negro yang sedang menari acakadut atau menyanyikan rap keras-keras di sembarang trotoar malam itu. Tetapi di kota yang seakan-akan tak pernah disentuh tangan Kristus itu, aku justru senantiasa mendengarkan jerit burung kematian memekik tak henti-henti sepanjang hari. Selalu terdengar berondongan peluru dan siapa pun menganggap letusan-letusan itu hanya sebagai derit mobil yang direm mendadak oleh pembalap kampungan. Selalu ada bisik-bisik transaksi kokain, morfin, ganja atau hasis, tetapi segala desis hanya terdengar sebagai siulan rahasia kanak-kanak untuk mengajak geng kecil mereka mengintip percumbuan sepasang kekasih di kegelapan taman.

Tentu pada Mei yang dipenuhi perkelahian-perkelahian sia-sia antara para petarung Meksiko dengan orang-orang negro, seharusnya aku tak perlu menggigil kedinginan, tetapi selalu saja kurasakan salju seperti membungkus tubuhku saat melakukan patroli di kawasan kumuh yang tak pernah dilewati mobil Paris Hilton atau jejak kaki Pamela Anderson ini. Dan musim semi yang tak menebarkan jutaan ulat juga kerap membuatku gatal saat aku mulai menyuruk-nyuruk ke gang-gang gelap penuh grafiti. Aku jadi mengidap psikosomatik akut dan setengah lumpuh sebelum menembakkan pistolku kepada siapa pun yang ingin mengacau keamanan dan ketertiban Los Angeles County.

Celakanya, sebagai deputy sheriff atau dulu saat masih menjadi polisi, aku tak mungkin menghindar dari jerat celaka kota tanpa malaikat ini. Andai saja Grace, kucing jelita bergaun biru yang kerap mencakar punggung saat bercinta denganku, tak tinggal di salah satu apartemen kumuh di pusat Compton, tak sudi aku menginjak neraka yang mengingatkan aku pada carut-marut pinggiran Jakarta yang dihuni ribuan zombi berwajah celeng atau babi. Juga andai kata J Morgan—raja geng berkulit hitam arang yang senantiasa mengejekku sebagai herder busuk—tak bersembunyi di labirin membingungkan yang bertebaran di sini, tak akan mau aku kelayapan malam-malam di tengah-tengah berondongan peluru, dengus orang mabuk, dan celometan orang-orang yang tak lagi menganggap sinar bulan di pucuk katedral sebagai aurora harapan.

"Ayolah, Grace, tinggalah di apartemenku. Keluarlah dari neraka busuk ini," kataku setelah yakin hendak meminang perempuan blasteran Afrika-Meksiko itu tiga tahun lalu.

"O, Tito, Sayang, kota ini memang tak indah bagimu. Tapi di jalanannya yang riuh dengan rap dan gedebuk para penari, aku menulis grafiti jorok dan meneriakkan keinginan-keinginan kaumku yang melarat dan tak punya harapan," desis Grace mirip para politikus saat berpidato.

Tak ingin mendebat omelan instruktur penari nudis yang kukenal di Sunset Boulevard itu, aku justru terkenang pada masa kecilku di Alas. Sampai seusia Sinchan, aku memang tinggal di kota kecil penuh sungai yang menghubungkan Semarang dan Solo itu. Di tengah-tengah hutan karet yang tak bisa kau lihat dalam peta Indonesia, aku bahkan pernah jadi gali kecil yang suka mencekik kucing di hadapan teman-temanku.

"Kalau saja tidak diungsikan ke Los Angeles oleh Oma-mu, aku yakin kau juga tak akan meninggalkan kota kelahiranmu, Tito. Kau mungkin tak jadi polisi. Kau mungkin akan jadi penjahat paling busuk di kotamu."
Meskipun segala yang dicelotehkan Grace setengah ngawur akibat martini yang ditenggak tak kunjung henti, sekali lagi aku tak berusaha mendebat. Pada saat-saat semacam itu Grace seperti menjelma cermin yang bisa memantulkan segala yang pernah kulakukan di sungai yang mengalir di belakang rumah. Aku ingat pada perahu-perahu kertas yang kuhanyutkan. Aku terkenang pada rakit-rakit pohon pisang yang meluncur tak keruan. Aku juga tak lupa pada setiap Sabtu sore dari berbagai lubang di sepanjang sungai muncul ular-ular yang melesat cepat ke gerojokan.

Tapi tak ada sungai ular di Los Angeles. Tak ada juga hutan karet di tengah-tengah gedung tinggi. Bahkan dari apartemen Oma, aku nyaris tidak pernah melihat bulan. Meskipun demikian, Oma berusaha memberikan segala yang kuinginkan lewat televisi. Di televisi, aku bisa melihat salju yang mulai meleleh di bukit-bukit atau bulan yang tampak sebagai tampah kecil di ujung langit. Di televisi pula aku bisa menyaksikan para polisi atau sheriff dihajar oleh para penjahat di Compton, tetapi selalu menang setelah bala bantuan dari markas besar muncul menggasak bandit-bandit yang kadang-kadang hanya bersenjata pisau berkarat atau pentungan.

Aha! Televisi pula yang menjadi ibu sejati yang selalu berbisik di telingaku menjelang tidur, "Ayo, Tito, jadilah polisi. Gasak setiap maling. Pukul kepala bodoh mereka dengan pentungan baseball. Tembak punggung mereka kalau terbirit-birit melarikan diri saat kau kejar."

Tetapi Grace selalu tak membiarkan aku menerawang jauh ke kota kelahiran, tempat ayah dan ibuku diculik tentara pada 1979 yang perih hanya karena mereka dianggap bersekongkol dengan para pejuang prodemokrasi dan neokomunis yang sedang bergerilya di Jakarta. Selalu pada saat-saat aku begitu ingin menikmati kesunyian—yang celakanya hanya bisa kuciptakan di kepalaku—ia selalu memelukku dari belakang, memberi gigitan kecil di telinga yang memabukkan, dan membisikkan kata-kata cinta serupa mantera serupa doa Kristus sebelum serdadu menusukkan lembing di lambung ringkih, sebelum langit tersaput awan hitam.

"Ayolah, Sayang, tak usah kau paksa aku meninggalkan kota yang selalu kau bayangkan sebagai neraka ini. Anggap saja aku ini bidadari busuk atau kucing biru dari ghetto Compton. Anggap saja aku bulan yang kau rindukan di sela-sela kegelapan gedung-gedung rusak yang ditinggalkan oleh orang-orang kaya yang kini melesat ke mana-mana dengan limosine di jalanan Los Angeles yang serba tertib dan beku.... O, kenapa kau diam saja, Sayang? Bukankah kau menyusup ke kamarku hanya untuk bercinta sambil bersama-sama mengintip orang-orang yang berkasak-kusuk di gang-gang sempit dari jendela? Bukankah sambil menggasak telingaku, kau akan selalu mengatakan padaku salju akan turun di Compton saat kau meminangku? Mengapa kau menipuku, Tito? Mengapa tak kau pindahkan saja musim dan bukit-bukit di sekitar Danau Tahoe ke ghettos busukku agar kita benar-benar merasakan keindahan salju?"

Aku menyesal selalu tak menjawab berondongan pertanyaan Grace dengan baik atau sedikit serius. Selalu saja kurespons kalimat-kalimat yang kuanggap konyol itu dengan ciuman panjang dan bisikan-bisikan gombal tentang sepasang malaikat yang bakal hidup sepanjang zaman tanpa perlu katedral tanpa perlu nabi atau Tuhan.

Kau pun akhirnya tahu itulah dengus cinta terakhir Grace yang diucapkan padaku sebelum tubuhnya diberondong tembakan membabi buta oleh penembak misterius yang menganggap penari ringkihku itu sebagai mata-mata polisi. Rupa-rupanya para anggota geng yang kerap mengklaim sebagai juru selamat atau Robinhood bagi orang miskin tak bisa menerima warga Compton mana pun bercinta dengan polisi. Polisi—lebih-lebih berkulit bewarna—bagi mereka adalah iblis yang harus dilenyapkan dengan cara-cara yang paling tidak terhormat. Menurut mereka, di luar orang- orang kulit putih, seharusnya setiap orang bersaudara dan tak perlu saling mengancam. Dan dalam kasusku, karena dianggap sebagai pengkhianat, mereka menyiksaku dengan cara membunuh kekasihku terlebih dulu. Lebih brengsek lagi Grace tidak punya kesempatan mengungkapkan dying declaration saat aku bersama Gabriel Lee, rekan kerjaku, menyusup ke kamarnya yang berantakan oleh berondongan peluru. Dengan tubuh penuh kucuran darah, dia memang masih bisa merangkul dan menggerak-gerakkan jari jemarinya di punggungku, tetapi saat kutanya siapa yang melakukan perbuatan biadab itu, mulut Grace seperti terkunci.

"Ayo, katakan kepadaku, siapa yang menembakmu, Sayang?" teriakku setengah menangis.

"O, my God, please, jangan keburu melihat surga, Grace! Katakan pada kami siapa yang melukaimu?" pekik Lee—yang sering kuanggap sebagai malaikat pelindungku—kesetanan.

Tetap tak ada jawaban. Lima belas detik yang berharga lenyap begitu saja. Ya, dying declaration, ungkapan 15 detik Grace menjelang kematian yang bisa dipakai untuk menangkap atau melakukan penggeledahan tanpa warrant itu benar-benar hanya tersangkut di tenggorokan. Coba kalau saja ia mengatakan bahwa Morgan-lah yang menghabisi nyawanya, saat itu pula aku akan mengobrak-abrik setiap labirin Compton dan menangkap bajingan tengik itu dan menembak kepalanya berkali-kali. Tidak! Tidak! Mungkin lebih baik aku akan membawa bajingan tengik itu ke Penjara San Quentin agar dia bisa merasakan bagaimana membeku di sel yang sempit. Kalau perlu aku akan minta izin menyuntik mati atau memberlakukan kembali hukuman tabung gas kepada bandit busuk itu. O, ancaman death row, sel-sel dingin mematikan yang berjalur-jalur itu, pun rasanya kurang kejam untuk mengganjar perbuatan Morgan, belut sialan yang selalu lepas dari tembakan dan kejaran polisi itu.

Mendadak Lee terpekik. "Lihat, Tito, di punggungmu ada tulisan Jesus dari darah Grace. Tidakkah ini bisa kita gunakan sebagai dying declaration?"

Hmm...darah Yesus memang berguna untuk para pendosa. Tapi tulisan "Jesus" di punggungku mungkin hanyalah ungkapan sia-sia Grace untuk menghadapi maut yang mencengkeram. Hanyalah grafiti tanpa arti di pakaian yang tentu tak akan kukenakan lagi saat mengejar Morgan atau penjahat-penjahat kambuhan di jalan-jalan. Meski begitu, kau tahu, Yesus di punggungku, akhirnya lebih kumaknai sebagai salib yang harus kupanggul dengan langkah yang terseok-seok saat kususuri trotoar Compton yang tak pernah bersih meski musim semi hinggap di pohon-pohon anggur atau murbei.

Dan tiga tahun setelah penembakan itu, tentu aku belum mampu melupakan malam-malam indah di Compton. Okelah aku memang berkali-kali memutar film komedi A Night in Compton, tetapi setelah itu aku justru teringat tawa renyah Grace saat mengguyur tubuhnya di shower. Aku justru teringat gerakan-gerakan tarian baru yang ia ciptakan menjelang kematiannya yang bagai kucing dicincang itu.

Saat meratapi kematian Grace, aku kadang-kadang memang menyimpulkan telah mencari cinta di tempat yang salah. Jika saja aku bisa menulis puisi, mungkin aku akan memberi tajuk teks itu Looking for Love in the Wrong Place. Tapi aku polisi dan tak suka puisi. Jadi, caraku mengenang Grace cukuplah memutar No Woman No Cry keras-keras dan kuucapkan janji-janji untuk tak mati-mati sebelum bisa membunuh penembak misterius yang kini menghilang dari labirin Compton yang telah kususuri inci demi inci.

Anehnya, setelah melewati malam-malam panjang melelahkan dan setiap saat menjalani pekerjaan menjenuhkan sebagai pengantar para penjahat yang akan dieksekusi mati di Penjara San Quentin, aku kian yakin salju tetap akan turun di Compton sekali waktu. Meskipun demikian, semua berjalan seperti biasa. Cuap-cuap rap terus mengalir. Bisik-bisik mesum terus menguar. Berondongan peluru tetap ngawur dilesatkan di sembarang mobil polisi yang melintas pelan-pelan.

Ternyata aku keliru. Dari pesawat radio di mobil kudengar pemberitahuan terjadi kejar-kejaran antara polisi dengan geng Morgan di sepanjang jalan. Aku dan Lee yang baru saja membereskan urusan pembunuhan mutilasi tak jauh dari apartemen Grace, pasti mudah menangkap musuh bebuyutan para polisi dan sheriff itu. Dan benar iring-iringan mobil yang menderu itu mengarah ke jalan yang telah kukuasai. Aku dan Lee tak akan kesulitan menembak ban mobil bobrok Morgan, setelah itu setan gila dan para anak buahnya dengan tubuh bersimbah darah tak mungkin tidak merangkak-rangkak memohon ampun dengan bahasa aneh tak keruan.

Edan! Khayalan tinggal khayalan. Mobil sableng—yang astaga jelas-jelas dilukisi gambar pria dari Nazareth dan tulisan Jesus itu—berhasil meloloskan diri dari kejaran dan menyerempet mobil kami setelah berhasil menghindar dari tembakan-tembakan Lee maupun berondongan peluruku.

Menatap grafiti itu ingatanku melenting-lenting ke tulisan berdarah Grace di pakaianku. Itu membuatku kesetanan meloncat ke mobil dan segera mengejar sedan penuh warna itu. Ya, percayalah tak lama lagi aku akan berhasil memborgol Jesus yang memberondong tubuh Grace tiga tahun lalu. Tak lama lagi aku akan memenjara atau menyalib dia di San Quentin atau jika perlu menembak jidatnya dengan beberapa peluru. Setelah itu, aku berharap salju akan turun di Compton dalam warna serba biru. Serba biru, ya, serba biru. Apakah kau masih tetap mengatakan salju tak akan pernah turun di Compton sepanjang waktu, kucing jelitaku?

Grace tentu tak bisa menjawab pertanyaanku. Dalam riuh desing peluru, setelah menabrak patung malaikat di kelokan jalan, lewat mikrofon kemrusek Morgan justru menirukan gonggong herder menyerupai Pangeran Srigala yang tak bisa dibunuh dengan sepuluh atau seratus peluru. Apakah salju benar-benar tak akan pernah turun di Compton, kekasihku?

Tetap tak ada jawaban. Kini kurasakan labirin jalanan melahap mobil kami dan sedan Morgan yang terus-menerus meraung-raung membelah malam.***

Los Angeles-San Francisco,

BAWAH REMBULAN


BAWAH REMBULAN


AWALNYA aku takut. Lama-lama jadi terbiasa. Hidup bersama orang-orang masa lalu di kota ini. Tanpa siang. Semua waktu adalah malam. Kadang hadir sebuah rembulan di langit. Membuatku senantiasa merasa sunyi walaupun sebenarnya aku suka sekali melihat rembulan. Malam rembulan.

Seorang penduduk, salah satu dari orang-orang masa lalu, pernah berkata padaku, kalau sebenarnya mereka letih untuk kembali bekerja ketika siang hari. Karena itulah mereka berkeputusan membakar siang. Membakar matahari.

Memang sudah lama aku mendengar kala waktu?yang katanya tanpa siang di kota ini. Siang sudah tak ada lagi. Siang telah menjadi malam. Kadang mereka juga kerap berpetuah pada pendatang yang kebingungan kerena menetap di kota yang selalu malam. Dalam ingatan, selintas petuah mereka terdengar: kau tak perlu ragu, jika hendak menetap di kota ini. Kata itulah yang masih terngiang sampai saat ini. Jangan pernah ragu.

Ya. Selalu terngiang. Lantas, aku kembali berpikir, kenapa cemas? Cemas bagian sisi manusia. Kerap menghancurkan.

Tentang cemas, bagi orang-orang masa lalu hanyalah milik orang tak punya rasa syukur. Makanya, dahulu orang-orang masa lalu sepakat membakar matahari yang baginya membuat letih dan cemas. Terkadang sakit. Entah sakit yang bagaimana. Karena terbit sampai tenggelam matahari hanya menjadikannya bekerja. Alasan cengeng. Tapi sekarang mereka senang, petanda separuh hari telah mereka bakar. Semata, supaya tidak bekerja. Kalaupun bekerja, paling hanya untuk tidur. Tindakan aneh. Tidak masuk akal, tapi begitulah kedaannya. Begitulah seterusnya.

Di hari yang selalu malam ini, terkadang aku melihat anak-anak kecil tampak riang bergembira tanpa beban. Betis ceking tanpa alas kaki, sambil bertelanjang dada, berlarian mengitari lapangan. Kembali lagi, dalam ingatanku, konon hal tersebut bagi mereka adalah ritual. Petanda bentuk penghormatan terhadap leluhur orang-orang masa lalu. Setiap hari mereka lakukan itu, sambil mengitari api unggun, mulai anak-anak sampai orang tua. Berkeliling. Begitulah seterusnya.

Sekali lagi, setiap hari malam rembulan. Dalam tatapan aku selalu melihat anak-anak berlarian. Saling kejar-kejaran. Dan remaja berpasang-pasangan, para orang tua asyik duduk tenang di setiap balkon depan rumahnya. Mereka menikmati malam. Malam bersahaja. Malam tak pernah mati.

Dalam sepanjang malam seperti ini, aku menikmati. Malam rembulan. Aku ingin mengerti semua ini. Aku tidak tahu, mengapa sedemikian berani mereka membakar siang. Aku makin hanyut oleh rasa ingin tahu. Menggelisahkan.

***
Sungguh unik kehidupan di kota ini. Semua orang mampu menikmati kehidupan seperti ini. Barangkali inilah suatu kehidupan yang tak pernah ada di muka bumi ini. Kota tanpa siang. Selalu malam. Tanpa matahari.

Seperti tadi aku bilang, sekali lagi, semua orang mampu menikmati kehidupan seperti ini. Kecuali, perempuan itu. Sering aku memperhatikannya menyendiri. Sebenarnya hal itu kuperhatikan sejak pertama kali di kota ini. Aku tidak tahu namanya. Kerap aku memperhatikan, setiap gelagatnya jauh seperti perempuan umumnya yang selalu mampu menikmati malam. Tapi, sepertinya ia justru ternikmati sebagai suatu kesunyian. Bermain sunyi. Barangkali.

Suatu ketika, aku memandangnya dari kejauhan. Ia jauh dari keramaian umumnya. Dengan langkah amat perlahan aku mendekatinya. Aku mendengar isak tangis perempuan itu. Sekali lagi, kembali aku tak tahu. Entah kenapa ia menangis. Aku pun ragu untuk lebih mendekat. Hanya bertanya dalam hati. Menduga-duga.

Dugaan salah. Di malam rembulan ini, yang tanpa siang, masih ada perempuan menangis. Menangis setiap saat. Sepengetahuanku, sejak kota ini menjadi malam tanpa siang, sungguh penuh suka cita. Tanpa duka. Terlebih oleh perempuan tengah menangisi kota ini. Kotanya sendiri. Sekali lagi, aku makin hanyut oleh rasa ingin tahu--selain keingintahuanku tentang mengapa sedemikian berani orang-orang di kota ini membakar siang. Membakar matahari.

Suasana aku nikmati menjadi begitu sunyi. Sunyi di balik derai tawa semua orang. Sunyi karena perempuan menangis. Menjadikan bukit-bukit tidak lagi tawarkan keindahan dari bayang-bayang selimut malam. Apalagi pagi, ketika embun membayang-bayangi bukit di tampak kejauhan. Laut juga tidak membawa debur ombak lagi. Apalagi ombak saling balap. Yang tersisa hanya gelap. Bermahkota bulan. Malam rembulan.

Kini aku benar-benar mendekati perempuan itu. Di belakangnya. Rupanya ia tahu. Tanpa kusadari, ia menangis sambil berkata-kata. Kata bersama isaknya yang terbata-bata. Sekarang aku benar-benar mendengarnya. Suatu hal paling aku inginkan.

Seketika itu pula kudengar ia berkata. Sambil terisak-isak. Menjadikannya terdengar terputus-putus.

"Inikah kotaku? Kota hancur. Mati. Orang-orang serakah. Matahari sudah mereka hancurkan. Matahari sudah tak milik kota ini lagi. Hancur. Langit tak punya salah. Langit kehilangan mataharinya. Kota ini tak bercahaya lagi. Semua mata pada gelap! Barangkali pikirannya pun demikian."

Aku tak mengerti. Ucapnya bercampur isak begitu menampakkan emosi batinnya terasa olehku. Terputus-putus. Sebisa mungkin aku merasakannya. Aku diam. Aku biarkan sampai ia berkata-kata kembali. Cukup lama aku menunggu. Kembali terlihat olehku, ia tampak sibuk memainkan jemarinya. Mengelus-elus putih kuku kerasnya. Memijat tangan lembutnya sendiri. Rasanya seperti menghitung-hitung irama kegelisahannya. Gundah. Rasanya banyak pula ingin dikatakannya. Kata kesal. Barangkali sesal.

Aku pun memulainya. Setidaknya ia kembali untuk berkata-kata lagi. Aku mendengar kata-katanya kembali. Tidak jelas. Sekuat tenaga, aku berusaha menangkap maksudnya. Sekuat tenaga, aku ingin mengerti kegelisahan mendaging dari miliknya. Rasanya. Ucap kesal dan sesal terdengar banyak. Sulit aku mengungkapkannya. Ungkapan mengalir dan seterusnya. Begitulah.

***
Aku kembali ke rumah. Melintasi jalan-jalan sepi. Lengang: Sembari masih teringat perempuan itu. Oh, kehidupan malam. Malam rembulan. Kau membuat aku selalu bertanya-tanya. Entah kehidupan macam apa ini. Mengapa sedemikian nekat orang-orang kota ini membakar siang. Membakar matahari.

Dalam pikiran, barangkali khayalan dalam angan, terlintas: Aku dan kekasihku masih berjauhan. Jarak jauh. Jarak terpisah oleh lautan. Bahkan pulau. Aku di sini, seperti aku bilang tadi, di pulau pada kota tak tanpa matahari. Siang mati. Sudahlah, aku hanya bayang. Seperti bayang dari wujud cahaya rembulan. Berpendar. Dari bulan tersiram matahari di pulau sana. Aku tak tahu. Di sini masih dan akan terus tanpa matahari. Malam selamanya. Sudahlah, sepertinya jadi makin mengigau sepanjang perjalanan ini. Gelap. Lengang. Selalu dan masih di bawah rembulan.

***
Seperti tak tersadar. Entah kemana aku melangkahkan kaki ini. Terus berjalan. Di bawah rembulan mengitari kota ini. Seperti kukatakan tadi, kehidupan orang-orang di sini seperti lebih bercahaya. Entah cahaya bagaimana. Bahkan cahaya apa. Dari pancaran mata orang-orang di sini tak menampakkan sebuah beban. Beban kosong. Kelamaan terkesan tak berpengharapan.

Seketika, kembali aku jumpai perempuan itu. Di pertigaan jalan itu. Seperti ada sesuatu ditunggunya. Tampak berpenampilan berbeda dari sebelumnya. Tampak anggun. Di bawah sinar rembulan, tampak cahaya menyepuh seluruh tubuhnya. Tak seperti aku lihat sebelumnya. Meskipun demikian, auranya masih menggelisahkan. Ia masih menangis. Entah ke berapa kalinya. Entah karena apa lagi.

Kembali perlahan, aku mendekatinya. Amat perlahan. Entah kegelisahan apalagi darinya. Yang kutahu, sejak pertama memang cukup banyak seolah ia gelisahkan. Aku sudah mendekat. Ia tampak menangis. Seperti kala waktu aku menjumpainya.

Kali ini aku ingin berkata padanya, tapi tak dapat. Kecuali dalam hati: Entah kegelisahan apalagi kau punya. Padahal ingin banyak berkata-kata padanya. Ingin tahu, kesal maupun sesalnya.

Cukup lama aku menunggunya. Penasaran. Mungkin aku harus memulainya. Semata, memancingnya bicara.

Inilah kesekian kalinya kulihat kau menangis lagi. Entah duka apa kau punya.

"Malam tak ada lagi. Sungguh jahanam. Aku kehilangan segalanya dari orang-orang serakah yang telah membakar matahari."

Aku masih tak mengerti maksud bicaranya. Aku hanya melihat ia menangis kembali. Terisak-isak. Entah kepada siapa pula ia tujukan kata-kata itu. Entah apa yang mengganggunya.

Tiba-tiba ia kembali berkata.

"Aku merindukan lelakiku dan matahariku. Semua di sini pada puas. Kepuasan mematikan kehidupan siang. Orang-orang di sini hanya ingin enaknya saja. Selalu menikmati malam. Menghalalkan haram. Mengharamkan halal. Lelakiku terbunuh karena memertahankan siang. Sekarang hanya malam. Malam di kota penuh kejahatan. Aku merindukan terang."

Dengan langkah amat perlahan aku meninggalkannya. Tampak olehku dari kejauhan, ia masih berbicara seorang diri. Sambil sesekali terisak-isak. Aku kembali berjalan. Entah ke mana. Tidak ingin pulang ke rumah.

Ada sepi dan ramai. Kembali aku melintasi orang-orang menikmati malam bawah rembulan. Anak-anak masih tak letih berlarian. Penduduk kota masih dengan nikmatnya. Entah nikmat yang bagaimana. Semua tampak tanpa beban. Tempaan angin dari arah teluk cukup membuat dingin. Di kota selalu malam aku masih terus bertanya dalam hati. Kegilaan apa yang menjadikan mereka nekat membakar matahari.

Setiap hari, di malam bawah rembulan. Aku masih melewati ruas-ruas jalan di kota ini. Kota pekat. Kota nekat. Setibanya di pertigaan jalan itu, di sudut tembok, aku kembali melihat perempuan tengah menangis. Seorang diri. Kali ini bukan yang tadi kujumpai. Rasanya tak perlu lagi aku dekati. Hanya dalam hati: Entah kesedihan apalagi yang kau punya.***

Cinta, Takut dan Harap Kepada Alloh


Ibadah bukanlah sekedar gerakan jasad yang terlihat oleh mata, namun juga harus menyertakan yang lain. Sebagaimana seseorang yang sedang melaksanakan sholat, ia tidak hanya bergerak untuk melaksanakan setiap rukun dan wajib sholat, tetapi juga harus menghadirkan hati sebagai ruh sholat tersebut. Bahkan jika seseorang menampakkan kekhusyukan badan dan hatinya kosong dan bermain-main maka ia terjatuh dalam kekhusyukan kemunafikan.

Ketahuilah, bahwa ibadah seorang hamba harus dibangun oleh tiga pilar, dan ketiganya harus terkumpul seluruhnya dalam setiap muslim. Ibadah seseorang tidaklah akan benar dan sempurna kecuali dengan adanya pilar-pilar tersebut. Bahkan sebagian ulama mengatakannya sebagai ‘rukun ibadah’. Tiga hal itu adalah “cinta, takut dan harap”. Sehingga seorang salaf berkata, “Barang siapa beribadah kepada Alloh dengan cinta saja maka dia seorang zindiq, barang siapa beribadah hanya dengan khouf (takut) saja maka haruri (khowarij), barang siapa beribadah hanya dengan rasa harap saja maka dia seorang murji’ dan barang siapa yang beribadah dengan cinta, takut dan harap maka dia seorang mukmin.”

Cinta

Cinta adalah rukun ibadah yang terpenting, karena cinta adalah pokok ibadah. Makna cinta tidak terbatas hanya kepada hubungan kasih antara dua insan semata, namun sesungguhnya makna dari cinta itu lebih luas dan dalam. Kecintaan yang paling agung dan mulia di dalam kehidupan kita ini adalah kecintaan kita kepada Alloh. Dimana jika seorang hamba mencintai Alloh, maka dia akan rela untuk melakukan seluruh hal yang diperintahkan dan menjauhi seluruh hal yang dilarang oleh yang dicintainya tersebut. Cinta kepada Alloh juga mengharuskan membenci segala sesuatu yang dibenci oleh Alloh. Sesungguhnya apabila ditanyakan kepada setiap muslim “Apakah anda mencintai Alloh?” maka tentu dia akan menjawab “Tentu saja”.

Namun pernyataan tanpa bukti tidaklah bermanfaat. Alloh tidak membutuhkan pernyataan belaka, Dia menginginkan agar kita membuktikan pernyataan kita “Aku cinta Alloh”. Oleh karena itulah, Alloh menguji setiap muslim dalam firman-Nya, “Katakanlah (wahai muhammad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31). Ya, bukti kecintaan kita kepada Alloh adalah dengan mengikuti Rasululloh dalam segala hal. Bahkan kecintaan kita terhadap beliau harus lebih dari kecintaan kita terhadap diri sendiri dan keluarga. Beliaulah teladan baik dalam aqidah, ibadah, akhlak, muamalah dan sebagainya. Alloh berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab: 21)

Maka jika kita mencintai Alloh, mari kita buktikan dengan menjadikan Rasululloh sebagai panutan kita, bukan dengan menjadikan orang-orang kafir sebagai panutan, walaupun mereka itu populer dan terkenal seperti artis, selebritis dan semacamnya. Karena sesungguhnya Rosululloh bersabda “Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya (di hari akhirat nanti).” (HR. Muslim). Dimana makna dari hadits ini adalah jika ketika di dunia kita mencintai orang-orang shaleh (seperti para rosul dan nabi) dan menjadikan mereka teladan, maka di akhirat nanti kita akan bersama mereka, dan sebaliknya jika ketika di dunia kita mencintai orang-orang kafir dan menjadikan mereka teladan, maka di akhirat nanti kita pun akan bersama mereka. Bukankah tempat mereka di akherat merupakan seburuk-buruk tempat. Duhai, betapa musibah yang sangat besar!

Takut

Pilar lainnya yang mesti ada dalam ibadah seorang muslim adalah rasa takut. Dimana dengan adanya rasa takut, seorang hamba akan termotivasi untuk rajin mencari ilmu dan beribadah kepada Alloh semata agar bebas dari murka dan adzab-Nya. Selain itu, rasa takut inilah yang juga dapat mencegah keinginan seseorang untuk berbuat maksiat. Alloh berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.” (Al Anbiya: 49)

Rasa takut ada bermacam-macam, namun yang takutnya seorang muslim ialah takut akan pedihnya sakaratul maut, rasa takut akan adzab kubur, rasa takut terhadap siksa neraka, rasa takut akan mati dalam keadaan yang buruk (mati dalam keadaan sedang bermaksiat kepada Alloh), rasa takut akan hilangnya iman dan lain sebagainya. Rasa takut semacam inilah yang harus ada dalam hati seorang hamba.

Harap

Pilar berikutnya yang harus ada dalam ibadah seorang hamba adalah rasa harap. Rasa harap yang dimaksud adalah antara lain harapan akan diterimanya amal kita, harapan akan dimasukkan surga, harapan untuk berjumpa dengan Alloh, harapan akan diampuni dosa, harapan untuk dijauhkan dari neraka, harapan diberikan kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat dan lain sebagainya. Rasa harap inilah yang dapat mendorong seseorang untuk tetap terus berusaha untuk taat, meskipun sesekali dia terjatuh ke dalam kemaksiatan namun dia tidak putus asa untuk terus berusaha sekuat tenaga untuk menjadi hamba yang taat. Karena dia berharap Alloh akan mengampuni dosanya yaitu dengan jalan bertaubat dari kesalahannya tersebut dan memperbanyak melakukan amal kebaikan. Sebagaimana firman Alloh “Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az Zumar: 53)

Harapan berbeda dengan angan-angan. Sebagai contoh orang yang berharap menjadi orang baik maka ia akan melakukan hal-hal yang merupakan ciri-ciri orang baik, sedangkan orang yang berkeinginan menjadi orang baik namun tidak berusaha untuk melakukan kebaikan maka orang-orang inilah yang tertipu oleh angan-angan dirinya sendiri.

Urgensi Cinta, Takut dan Harap Dalam Ibadah

Ketiga pilar yang telah disebutkan di atas harus terdapat dalam setiap ibadah seorang hamba. Tidaklah benar ibadah seseorang jika satu saja dari ketiga hal tersebut hilang. Seseorang yang memiliki rasa takut yang berlebihan akan menyebabkan dirinya putus asa, sedangkan jika rasa takutnya rendah maka dengan mudahnya dia akan bermaksiat kepada Tuhannya.

Kebalikannya seseorang yang berlebihan rasa harapnya akan menyebabkan dia mudah bermaksiat dan jika rendah rasa harapnya maka dia akan mudah putus asa. Sedangkan kedudukan cinta, maka cinta inilah yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Sehingga diibaratkan bahwa kedudukan ketiga pilar ini dalam ibadah bagaikan kedudukan seekor burung, dimana rasa takut dan harap sebagai kedua sayapnya yang harus seimbang dan rasa cinta sebagai kepalanya yang merupakan pokok kehidupannya.

tanya-jawab dalam hal aqidah Islam

Berikut ini akan kami bawakan risalah yang berisi tanya-jawab dalam hal aqidah Islam yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Dengan mencermati karya beliau ini akan tampaklah bagi kita sebenarnya bagaimana aqidah [keyakinan] beliau yang mungkin bagi sebagian kalangan telah mendapatkan kesan negatif mengenai beliau. Silakan anda telaah dengan pikiran yang jernih dan hati yang tenang. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita.

Tanya : Siapakah Rabbmu?
Jawab : Rabbku adalah Allah yang telah memeliharaku dan memelihara seluruh alam dengan segala nikmat-Nya. Dia lah sesembahanku, tidak ada bagiku sesembahan selain-Nya. Sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala dalam surat al-Fatihah (yang artinya), “Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.”

Tanya : Apakah makna kata Rabb?
Jawab : Yang menguasai dan yang mengatur, dan hanya Dia (Allah) yang berhak untuk diibadahi

Tanya : Apa makna kata Allah?
Jawab : Yaitu yang memiliki sifat ketuhanan dan berhak diibadahi oleh seluruh makhluk-Nya

Tanya : Dengan apa kamu mengenal Rabbmu?
Jawab : Dengan memperhatikan ayat-ayat-Nya dan makhluk-makhluk ciptaan-Nya

Tanya : Makhluk apakah yang terbesar yang bisa kamu lihat di antara makhluk ciptaan-Nya?
Jawab : Langit dan bumi

Tanya : Apakah ayat (tanda kekuasaan)-Nya yang paling besar?
Jawab : Malam dan siang, matahari dan bulan

Tanya : Apakah dalil atas hal itu?
Jawab : Dalilnya adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Allah menutupkan malam kepada siang dan mengikutinya dengan cepat, matahari dan bulan serta bintang-bintang semuanya ditundukkan dengan perintah-Nya. Ingatlah, sesungguhnya penciptaan dan pemberian perintah adalah hak-Nya, Maha berkah Allah Rabb seluruh alam.” (QS. al-A’raf : 54).

Tanya : Untuk apakah Allah menciptakan kita?
Jawab : Untuk beribadah kepada-Nya

Tanya : Apa yang dimaksud beribadah kepada-Nya?
Jawab : Mentauhidkan Allah dan menaati-Nya

Tanya : Dalam hal apa kita menaati-Nya?
Jawab : Kita taati perintah-Nya dan kita jauhi segala yang dilarang-Nya kepada kita

Tanya : Apa dalil untuk hal itu?
Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat : 56).

Tanya : Apa makna ’supaya mereka beribadah kepada-Ku’?
Jawab : Maknanya adalah agar mereka mentauhidkan Allah

Tanya : Apa yang dimaksud dengan tauhid?
Jawab : Tauhid adalah mengesakan Allah dalam beribadah

Tanya : Apakah perkara terbesar yang dilarang Allah untuk kita?
Jawab : Perkara terbesar yang dilarang Allah adalah syirik yaitu berdoa kepada selain Allah [saja] atau berdoa kepada selain-Nya di samping berdoa kepada-Nya.

Tanya : Apakah dalilnya?
Jawab : Dalilnya adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya (dalam beribadah) dengan sesuatu apapun.” (QS. an-Nisaa’ : 36).

Tanya : Apa yang dimaksud dengan ibadah?
Jawab : Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi

Tanya : Apa sajakah yang termasuk macam-macam ibadah?
Jawab : Ibadah itu banyak jenisnya, di antaranya adalah : doa, takut, harap, tawakal, roghbah (keinginan), rohbah (kekhawatiran), khusyu’, khas-yah (takut yang dilandasi ilmu), inabah (taubat), isti’anah (meminta pertolongan), isti’adzah (meminta perlindungan), istighotsah (meminta keselamatan dari bahaya), menyembelih, nadzar, dan jenis-jenis ibadah yang lainnya.

Tanya : Apakah dalilnya?
Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Seluruh masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyeru bersama-Nya sesuatu pun.” (QS. al-Jin : 18).

Tanya : Apa hukum bagi orang yang mengalihkan ibadah kepada selain Allah?
Jawab : Orang yang melakukannya dihukumi musyrik dan kafir

Tanya : Apakah dalilnya?
Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Barangsiapa yang menyeru bersama Allah sesembahan yang lain padahal tidak ada bukti baginya, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada akan beruntung.” (QS. al-Mukminun : 117).

Tanya : Perkara apakah yang diwajibkan pertama kali oleh Allah kepada kita?
Jawab : Yaitu mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah

Tanya : Apa yang dimaksud dengan thaghut?
Jawab : Segala sesuatu yang menyebabkan hamba melampaui batas, yang berupa sesembahan, orang yang diikuti atau sosok yang ditaati, maka dia adalah thaghut

Tanya : Ada berapakah thaghut itu?
Jawab : Jumlah mereka banyak, namun pembesarnya ada lima : Iblis -semoga Allah melaknatnya-, orang yang diibadahi dan ridha dengan hal itu, orang yang menyeru orang lain untuk beribadah kepada dirinya, orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib, dan orang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah

Tanya : Apakah dalilnya?
Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tidak ada paksaan dalam agama, sungguh telah jelas antara petunjuk dengan kesesatan. Barangsiapa yang mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya dia telah berpegang dengan buhul tali yang sangat kuat dan tidak akan putus, Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. al-Baqarah : 256).

Tanya : Apa yang dimaksud dengan Urwatul Wutsqa (buhul tali yang sangat kuat)?
Jawab : Maksudnya adalah laa ilaha illallah

Tanya : Apa makna laa ilaha illallah?
Jawab : Laa ilaha adalah penolakan, sedangkan illallah adalah penetapan

Tanya : Apa yang ditolak dan apa yang ditetapkan?
Jawab : Aku menolak segala sesembahan selain Allah dan aku tetapkan bahwa seluruh jenis ibadah harus ditujukan kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya

Tanya : Apakah dalilnya?
Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayah dan kaumnya; sesungguhnya aku berlepas diri dari semua sesembahan kalian kecuali dari Dzat yang telah menciptakanku, sesungguhnya Dia pasti menunjuki diriku. Dan Allah menjadikan kalimat itu tetap ada pada keturunannya (Ibrahim) semoga mereka mau kembali (kepada kebenaran).” (QS. az-Zukhruf : 26-28).

Tanya : Apakah agamamu?
Jawab : Agamaku Islam, yaitu menyerahkan diri kepada Allah dengan bertauhid, patuh kepada-Nya dengan melakukan ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya

Tanya : Apakah dalilnya?
Jawab : Yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanya Islam.” (QS. Ali Imran : 19). Dan juga firman-Nya (yang artinya), “Barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat nanti dia pasti termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imran : 85).

Tanya : Ada berapakah rukun Islam?
Jawab : Ada lima; syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke rumah Allah yang suci jika memiliki kemampuan.

Tanya : Apakah dalil syahadat laa ilaha illallah?
Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Allah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu, dengan menegakkan keadilan. Tidak ada sesembahan yang benar selain Dia, Yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (QS. Ali Imran : 18).

Tanya : Apakah dalil syahadat anna Muhammadar rasulullah?
Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sekali-kali Muhammad itu bukanlah ayah salah seorang lelaki di antara kalian, namun dia adalah utusan Allah dan penutup nabi-nabi.” (QS. al-Ahzab : 40).

Tanya : Apa makna syahadat anna Muhammadar rasulullah?
Jawab : Maknanya adalah menaati perintahnya, membenarkan beritanya, menjauhi segala larangannya, dan beribadah kepada Allah hanya dengan syari’atnya

Tanya : Apakah dalil sholat, zakat serta tafsir dari tauhid?
Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan tidaklah mereka disuruh melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan penuh ikhlas melakukan amal karena-Nya (tanpa disertai kesyirikan), mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah : 5)

Tanya : Apakah dalil puasa?
Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah : 183).

Tanya : Apakah dalil haji?
Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Wajib bagi umat manusia untuk menunaikan ibadah haji ke baitullah karena Allah, yaitu bagi orang yang mampu melakukan perjalanan ke sana. Barangsiapa yang kufur maka sesungguhnya Allah Maha kaya dan tidak membutuhkan seluruh alam.” (QS. Ali Imran : 97).

Tanya : Apakah pondasi ajaran dan kaidah dalam agama Islam?
Jawab : Ada dua perkara : [Pertama] adalah perintah untuk beribadah kepada Allah semata dan memotivasi manusia untuk melakukannya, membangun loyalitas di atasnya dan mengkafirkan orang yang meninggalkannya (tidak beribadah kepada Allah). [Perkara Kedua] adalah memperingatkan manusia dari kesyirikan dalam hal ibadah kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, bersikap keras dalam hal itu (mengingkari syirik), membangun permusuhan di atasnya, dan mengakfirkan orang yang melakukannya (kemusyrikan).

Tanya : Ada berapakah rukun iman?
Jawab : Ada enam; yaitu iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik dan yang buruk

Tanya : Apakah dalilnya?
Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Bukanlah kebaikan itu kamu memalingkan wajahmu ke arah timur ataupun barat, akan tetapi yang disebut kebaikan adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab, dan para nabi.” (QS. al-Baqarah : 177).

Tanya : Apakah dalil iman kepada takdir?
Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan ukuran/takdir.” (QS. al-Qamar : 49).

Tanya : Apa yang dimaksud ihsan?
Jawab : Ihsan terdiri dari satu rukun yaitu; kamu beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya dan jika kamu tidak bisa maka yakinlah bahwa Dia senantiasa melihatmu

Tanya : Apakah dalilnya?
Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya Allah akan bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. an-Nahl : 128).

Tanya : Siapakah Nabimu?
Jawab : Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim, sedangkan Hasyim berasal dari keturunan Quraisy, Quraisy dari bangsa Arab, sedangkan Arab merupakan keturunan Nabi Ismail putra Ibrahim al-Khalil (kekasih Allah) semoga shalawat dan salam yang paling utama tercurah kepadanya dan kepada nabi kita.

Tanya : Berapakah umur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Jawab : Enam puluh tiga tahun; empat puluh tahun sebelum diangkat menjadi nabi dan dua puluh tiga tahun sebagai nabi dan rasul

Tanya : Dengan apakah beliau diangkat menjadi Nabi? Dan dengan apa diangkat sebagai rasul?
Jawab : Beliau diangkat menjadi Nabi dengan turunnya Iqra’ dan diangkat sebagai rasul dengan turunnya al-Muddatstsir

Tanya : Di manakah negerinya?
Jawab : Beliau berasal dari Mekah lalu berhijrah ke Madinah, dan kemudian beliau wafat di sana -semoga shalawat dari Allah dan keselamatan senantiasa tercurah kepadanya- setelah Allah sempurnakan agama dengan mengutus beliau (beserta ajarannya).

Tanya : Apa yang dimaksud dengan hijrah?
Jawab : Berpindah dari negeri syirik menunju negeri Islam, sementara hijrah itu tetap berlaku hingga tegaknya hari kiamat

Tanya : Apakah dalilnya?
Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat itu dalam keadaan menganiaya diri mereka sendiri. Maka malaikat bertanya kepadanya; Di manakah dulu kalian berada? Mereka menjawab; Kami dulu berada dalam keadaan tertindas dan lemah di muka bumi. Mereka berkata; bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kalian dapat berhijrah di atasnya? Mereka itulah orang-orang yang tempat kembalinya adalah neraka Jahannam dan sungguh neraka itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’ : 97).

Tanya : Apakah dalilnya dari Sunnah (Hadits)?
Jawab : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah terputus hijrah sampai taubat terputus, dan tidak akan terputus [kesempatan] bertaubat hingga matahari terbit dari arah tenggelamnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan ad-Darimi).

Tanya : Apakah Rasul masih hidup atau sudah mati?
Jawab : Beliau telah meninggal sedangkan agamanya masih tetap ada hingga hari kiamat tiba

Tanya : Apakah dalilnya?
Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya kamu pasti mati dan mereka pun akan mati, kemudian nanti pada hari kiamat di sisi Rabb kalian maka kalian pun akan saling bermusuhan.” (QS. az-Zumar : 31).

Tanya : Apakah setelah mati manusia akan dibangkitkan?
Jawab : Iya, benar

Tanya : Apakah dalilnya?
Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dari tanah itulah Kami ciptakan kalian dan kepadanya kalian Kami kembalikan, dan dari dalamnya Kami akan mengeluarkan kalian untuk kedua kalinya.” (QS. Thaha : 55).

Tanya : Apakah hukum orang yang mendustakan hari kebangkitan?
Jawab : Orang yang melakukan hal itu adalah kafir

Tanya : Apakah dalilnya?
Jawab : Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Orang-orang kafir itu mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan lagi, katakanlah; sekali-kali tidak, demi Rabbku, kalian benar-benar akan dibangkitkan kemudian akan dikabarkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan [di dunia], dan hal itu bagi Allah sangatlah mudah.” (QS. at-Taghabun : 7).

Diterjemahkan dari :
Maa yajibu ‘alal muslim ma’rifatu wal ‘amalu bihi
Oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Sulaiman at-Tamimi rahimahullah
Dengan pengantar Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Alu Jarullah