Jumat, 19 November 2010

Andaikata Bisa Lebih Panjang Lagi

Andaikata Bisa Lebih Panjang Lagi


Ketika sedang membuka koleksi ebook yang saya beli beberapa tahun yang lalu, tanpa sengaja menemukan artikel yang cukup menarik. Artikel ini saya posting di blog ini karena menurut saya cukup inspiratif dan bisa dijadikan sebagai sebuah renungan. Menceritakan tentang penyesalan seseorang ketika menjelang ajalnya. Namun di dalam artikel ini tidak saya temukan siapa penulisnya. Jika pembaca ada yang tahu silahkan beritahu saya. Ini dia kisahnya :
Seperti yang telah biasa dilakukannya ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia Rosulullah SAW akan mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Pada saat pulangnya disempatkan oleh Beliau singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu. Kemudian Rosulullah berkata, “tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?” Istrinya menjawab, saya mendengar dia mengatakan sesuatu di antara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal”
“Apa yang di katakannya?”, Saya tidak tahu, ya Rosulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.
“Bagaimana bunyinya?” desak Rosulullah. Istri yang setia itu menjawab, suami saya mengatakan “Andaikata bisa lebih panjang lagi …. andaikata yang masih baru …. andaikata semuanya ….” hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?”
Rosulullah tersenyum, “sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,” ujar Beliau. Kisahnya begini. Pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat jum’at. Di tengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata “andaikan bisa lebih panjang lagi”. Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya akan lebih besar pula.
Ucapan lainnya ya Rosulullah?” tanya sang istri mulai tertarik. Nabi menjawab, adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, “Coba andaikan yang masih yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi”. Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.
Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rosulullah?” tanya sang istri makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan, “ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musyafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musyafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak (hampir ajal), ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata, “kalau aku tahu begini hasilnya, musyafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda”.
Memang begitulah keadilan Tuhan. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain. Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk. Akibatnya juga akan menimpa diri kita sendiri, sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an Surat Al Isra ayat 7.
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لأنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا
Artinya :  “Kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula ….. .” (Surat Al Isra ayat 7).
Semoga kisah di atas bisa menjadi renungan dan menginspirasi kita semua untuk menjadi manusia yang terbaik, yang bermanfaat dan pandai memanfaatkan sedikit waktu yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa Allah SWT. Kita sering lengah dan terbuai dengan waktu yang ada, seolah-olah masih bisa hidup seribu tahun lamanya, padahal tak seorangpun yang tahu dan tidak ada jaminan apakah tahun depan, bulan depan, minggu depan bahkan esok hari, kita masih diberikan umur yang panjang.
وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)٣
Artinya :1.Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS: Al ‘Ashr ayat 1-3).

0 komentar:

Poskan Komentar