Kamis, 18 November 2010

CERPEN, AKU



Aku mungkin sudah gila. Setidak-tidaknya berada dalam stadium awal menuju gila.Aku rebahkan tubuhku yang lelah. Di tepian jalan yang ramai.Aku gila ?.Apa salahnya menjadi gila? Tidak ada salahnya.
Menjadi gila bisa menjadi jalan terbaik menyelesaikan beban hidupku. Aku bisa merdeka dari beban-beban hidup. Berjalan ke mana saja.Tidur di mana saja.Telanjang.Menyanyi. Menangis. Jika seandainya aku membunuh, tidak akan dipenjara.Paling-paling dilemparkan ke RSJ. Menjadi gila adalah sebuah kemerdekaan. Orang lalu lalang di trotoar. Aku dulu seorang pejabat penting di sebuah departemen yang basah.Dengan kekuasaan yang luas, menentukan abang birunya suatu proyek.
Tetapi dalam hati sering timbul pertanyaan. Apakah aku ini pejabat ? Atau sekadar perampok !?.Tidak adanya bedanya. Semakin hari semakin tipis-tipis saja.Aku terkadang merampok.Mencopet. Mencuri.Memerkosa.Aku mengumpulkan harta. Menimbunnya. Menyantapnya dengan lahap di setiap malam.Mulai dari sudut - sudut restoran sampai kamar-kamar hotel. Sekarang, aku terbuang. Gila.Nyasar di sepanjang trotoar. Aku menghampiri seseorang yang menyandarkan tubuhnya di dinding pagar taman kota. Ia merokok.Asapnya mengepul.Putih.Ia begitu menikmatinya. Seperti sedang orgasme dengan rokok.Aku mencoba tersenyum.
Menepuk pundaknya.Sok akrab. ”Sudah lama.” Orang itu bengong ”Sudah lama aku tidak merokok.” Dia menyodorkan sebatang rokok kretek.Aku tersenyum.Tanganku bergerak cepat. Dengan rakus kumasukkan rokok itu ke mulutku.Dia memberiku korek api.Dinyalakan.Asap segera mengepul.Setiap sedotan kunikmati dengan kekhusyukan hati. Rasanya sudah berabad-abad tidak merokok. ”Rumahmu di mana ? ” Aku tertawa. ”Kamu tidak punya rumah !” ”Jika aku punya rumah.Aku tidak akan berada di sini.” Dia tertawa. Giginya kuning.Terlihat di antara asap rokok. ”Aku tahu.Kamu dibuang keluargamu, karena kamu gila.”
”Aku tidak gila !” Ia tertawa.Jelek sekali tawanya. ”Aku sebenarnya seorang pejabat.” Tawanya semakin ngakak. ”Dasar orang gila.” Ia segera pergi meninggalkanku sendirian. Rokok kusedot dalam-dalam. Ia tidak percaya aku pejabat.Tapi,masak pejabat bajunya kucel, penuh tambalan, tubuhnya bau. Aku harus segera berganti baju.Biar orang percaya.Aku terkadang merasa masih pejabat. Biarpun sudah dipecat karena korupsi. Sesaat kemudian ia kembali.Tawanya jelek.
Giginya kuning. Menjengkelkan. ”Kamu percaya aku pejabat ?” ”Iya,aku percaya.Tapi itu dulu.” Aku bengong.Dia tahu,siapa aku ?. ”Aku tahu,siapa kamu.Pejabat negara. Koruptor.” ”Aku tidak pernah korupsi.”Aku teriak Dia tertawa.Aku tidak berani melihat wajahnya. ”Kamu merasa masih pejabat !?” Aku mengangguk ” Sekarang,kamu orang gila.Yang bisa setiap saat mati di got.Digorok.Disodomi. Dicincang. Dagingmu untuk campuran bakso.” Aku merinding. ”Kamu takut ? Orang gila kok punya takut !.” ”Aku tidak gila !!.”aku teriak kembali ”Aku tahu kamu tidak gila.Tapi sinting. Sudrun.Grazy.Mad.” Aku melihat gigi kuningnya.
Muak. Mau muntah.Aku jadi ingat sesuatu. Aku perhatikan wajah orang itu dalamdalam. Aku sepertinya mengenalnya. ” Kamu Sastro, iya kan !. Kamu ingat.Kita pernah satu partai.” Kami berpelukan. ”Kamu juga gila !?.”tanyaku Dia tertawa. ”Aku ikut kamu.Menjadi gila.” Aku mulai karierku sebagai orang gila sepuluh tahun yang lalu.Saat aku berhasil menjadi pejabat penting di sebuah departemen.Aku mengurusi proyek. Menentukan siapa yang akan menangani suatu proyek.
Aku dipilih atasan, bukan karena aku mampu di bidang proyek bangunan. Sedikit pun aku tidak paham. Hanya satu alasan. Atasan dekat denganku karena banyak kesamaan. Sama-sama suka mabuk. Ngelonte. Karaoke atas - bawah. Dan yang penting sama-sama doyan uang.Culas.Tidak jujur.Tentu maling akan berjamaah dengan maling juga. Dari sinilah aku belajar menjadi gila. Bagaimana tidak gila.Proyek yang sebesar tiga ratus juta rupiah.Aku kepras limapuluh juta.Tapi jangan bayangkan aku rakus.Aku hanya dapat lima juta.Yang lain,untuk setor ke atas dan kanan-kiri.
Tentu tanpa kuitansi atau tanda terima lainnya.Dan yang lebih gila lagi,kontraktornya bisa membuat laporan dengan jumlah total tiga ratus juta rupiah.Entah dari mana dia mendapatkan uang lima juta untuk menggenapi.Gila. Kebiasaanku yang gila mendorong aku untuk menjadi gila sungguhan. Aku terbiasa hidup di alam maya.Sulit untuk menerima fakta.Aku tidak menerima fakta bahwa uang proyek sudah kukepras.Kontraktor harus membuat laporan uang utuh.Aku tidak bisa menerima fakta.kayu kusen-kusen sebuah sekolah SD hanya dari kayu meranti.
Kontraktor harus membuat laporan sesuai bestek,kusen-kusen dari kayu jati dan bengkerai. Aku benci fakta. Aku biasa berdusta. Muak dengan kejujuran.Tapi akhirnya aku capek. Lelah.Perut istri dan anakku terlalu banyak diisi yang haram. Sehingga mereka menjadi jahat.Istri tergila-gila dengan seorang gigolo yang sebaya anaknya.Anak putriku, hamil dengan laki-laki yang ia sendiri lupa siapa namanya. Ini sungguh gila.Tapi ini fakta.Aku tidak suka fakta.Aku kaget. Shock. Depresi. Jika proyek yang aku urus dengan mudah aku bermain-main dengan angka,merekayasanya menjadi wajar dan rasional.
Tetapi istriku yang kabur dengan gigolo dan anakku yang bunting. Bagaimana aku merekayasanya ? Aku tidak bisa menerima fakta. Aku tidak biasa hidup dengan fakta. Satu fakta lagi menyusul.Aku dipecat dengan tidak hormat.Polisi memburuku. Aku korupsi katanya.Aku sadar aku memang telah mencuri uang rakyat.Tapi aku tidak sendiri. Bukankah uang itu juga aku setor ke atas dan kanan-kiri.Ini fakta.Tapi tidak pernah jadi fakta karena aku tidak mempunyai bukti otentik.Gila.Aku merasa seperti anjing kurap yang ditinggalkan di jalan menunggu digilas oleh mobil yang lewat.Ini permainan yang gila. Jika tersangka korupsi pura-pura sakit itu biasa.
Aku mencari model baru. Aku pura-pura gila. Bukankah orang gila akan terbebas dari hukum ? Bahkan kalau seandainya aku membunuh, memerkosa, merampok, tidak ada jalan bagi hukum untuk menjerat. Pada awalnya aku agak tersiksa purapura gila. Risih, harus memakai baju penuh tambalan.Tertawa sendiri.Makan dari bak sampah.Tapi lama-lama aku merasakan kenikmatan. Aku sempat dikirim di rumah sakit jiwa. Itu lebih baik daripada aku dikirim ke penjara.Sebagai orang gila aku leluasa menggoda suster, mencolek pengunjung yang bahenol, atau pipis dan berak sembarang tempat.Aku bisa melakukan yang tidak bisa dilakukan orang waras.
Tetapi aku tidak kuat lama-lama di RSJ. Aku kabur. Tentu lebih mudah kabur dari RSJ daripada dari penjara. Aku lari. Aku ingin pulang.Tapi semua hartaku musnah. Sebagian disita negara.Sebagian yang lain dibawa kabur istriku dengan PILnya. Aku shock.Depresi.Inifakta,bukan fiksi sebagaimana laporanku. Aku telah kehilangan semuanya. Aku menangis. Tertawa sendirian. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Pikiranku tak bisa dikontrol. Perbuatanku seperti sebuah refleks yang tak beraturan.Menangis.Tertawa.


Tapi aku semakin merasakan kemerdekaan jadi orang gila.Aku mulai tidak tahu,aku pura-pura gila atau memang sudah gila sungguhan.Yang pasti lama-lama aku betah jadi gila.Aku menikmati menjadi gila.Aku merasa bahagia menjadi gila.Dulu juga sudah gila. Dengan segala kekuatan aku akan mempertahankan keadaan gila. Aku tertawa. Mengekspresikan kebahagiaan. Sastro gigi si gigi kuning ikut tertawa. ” Kita ini sudah gila sungguhan.” Kata Satro ”Kamu sedih menjadi orang gila ?.” ” Gila itu pilihan hidup. Tentu dengan berbagai risiko. Dulu kita gila dengan membunuh hati nurani.Menolak fakta.Membiasakan diri hidup dengan rekayasa. Mengepras uang proyek. Merampok raskin.Uang JPS.Kita sebut uang lelah.
Uang transport.Uang syukuran.”Sastro berhenti.Wajahnya kelihatan semakin jelek dan culun ” Sekarang gila kita sudah masuk fase paripurna.Kita gila sungguhan.Hidup tidak di atas fakta lagi.Tapi di awangawang. Tertawa saat orang –orang sedih. Bukankah itu sama gilanya dengan kita dulu saat kita masih menjadi pejabat. Kita tertawa setelah mengambil uang JPS dan raskin. Si miskin menangis uangnya dipotong. Tetapi tidak berani bicara.Sedang kita tertawa terbahak-bahak. Berkaraoke. Ngorok di hotel.Makan pindang bule di ranjang-ranjang hotel.” ” Ini pengakuan dosamu !” sergahku cepat Ia tertawa lebar. Gigi kuning terlihat lagi.
”Kamu sendiri bagaimana ?” Aku terdiam. ”Yang aku katakan tadi fakta, kan !? Bukan data yang telah disihir.” ” Sejak kapan kamu bisa membedakan fakta dan rekayasa !?” ” Sejak menjadi gila pada tingkat paripurna.” Aku tertawa. ”Sama dengan kamu,iya kan !” ”Mungkin.” ”Kok,mungkin.Yang pasti dong.” ” Otakku sudah error. Tidak bisa membedakan fakta dan bukan fakta. Aku gila itu fakta atau bukan. Istriku lari dengan gigolo itu fakta atau fiksi. Anakku bunting itu fakta atau fiksi. Kemudian aku dipecat. Disidang di meja hijau. Ditudung korupsi. Purapura gila.Lalu jadi gila sungguhan, itu fakta atau bukan !?.” Sastro tertawa. Dia sudah gila.Aku semakin tidak menyadari apa sesungguhnya terjadi. Fakta atau rekayasa.Aku tertawa sendiri. Menangis sendiri. Di sepanjang trotoar yang ramai. ***


0 komentar:

Poskan Komentar