Kamis, 18 November 2010

CINTA MATI TERNYATA ADA




Sudah enam tahun suami Mbok Pinah tergolek sakit di atas ranjang dengan kasur lusuh sebagai alas. Kasur yang begitu lusuh sehingga tak pantas lagi disebut sebagai kasur. Kain kasurnya yang bermotif garis-garis warna biru dan putih itu robek di sana-sini. Sehingga, sesekali ada kapuk keluar dari persembunyiannya.
Tak ada tempat yang lebih lebar lagi selain kasur lusuh itu. Di bawah kolong, sampai seluas-luasnya hingga mencapai bibir daratan, terhampar Pulau Jawa yang sungguh subur. Sebegitu luasnya, namun hanya beberapa ruas kaki yang sanggup dihuni suami Mbok Pinah. Ya, kasur itu hanya seluas dua-tiga ruas kaki orang dewasa saja. Tak lebih.
Mungkin, sepanjang sisa hidupnya dia harus rela menghabiskan di atas kasur itu. Rasanya, ingin sekali dia bangkit dari kasur itu dan kembali mencangkul di sawah. Namun apa yang dapat dikata. Tenaganya terbang entah ke mana.
Enam tahun lalu ketika Wak Suto, suami Mbok Pinah, sedang asyik bekerja -mencangkul- di sawah, secara tiba-tiba tubuhnya tersungkur ke tanah penuh lumpur. Wak Suto kena stroke. Lalu dia dibawa oleh teman-temannya sesama petani pulang ke rumah. Melihat suaminya dalam keadaan tak sadarkan diri, Mbok Pinah juga ikut tersungkur ke tanah, pingsan.
Baru setelah diberi bau-bauan dari minyak kayu putih, Mbok Pinah sadar. Namun, Wak Suto masih memejamkan matanya. Belum juga sadarkan diri. Karena lama tak sadarkan diri, teman-temannya memanggil "orang pinter." Orang itu membacakan mantra-mantra di telinga Wak Suto. Lalu sadarlah Wak Suto. Ketika sadar dari stroke, dia hanya dapat melihat sebuah dunia yang hanya berwarna ungu pekat. Juga merasakan tubuhnya lemas tak bertenaga, sampai sekarang.
Segala sesuatu yang menyangkut kebutuhan Wak Suto selalu dipenuhi dan dilayani sang istri. Mbok Pinah dengan tulus dan ikhlas selalu melayani suaminya yang tergolek sakit. Tak ada hal lain yang dapat dilakukan. Dengan kata lain, dunia Wak Suto hanya seluas dimensi kasur.
Makan, minum, mandi, hingga rutinitas buang air kecil dan besar pun harus dengan pelayanan istrinya. Suap demi suap bubur dengan cermatnya disodorkan ke mulut sang suami. Semua terkesan tulus dan ikhlas. Jika ada bubur yang membelepoti bibirnya, maka dengan hati-hati Mbok Pinah menyeka dengan sapu tangan.
Mereka tinggal berdua di sebuah rumah yang rapuh. Temboknya terbuat dari papan ala kadarnya dan tiang penyangga tua. Sebentar lagi akan roboh jika terserempet puting beliung. Tak ada sesuatu apa pun yang berharga di rumah itu selain setrika listrik yang dibelikan anaknya yang merantau di Surabaya. Padahal, di rumahnya tak ada listrik. Walaupun, listrik sudah masuk desa dan dapat dinikmati penduduk.
Kedua anaknya pergi meninggalkan emak dan bapaknya. Juga meninggalkan Desa Karangwungu yang membesarkannya. Hanya uang dan uang yang datang menjenguk Mbok Pinah dan suaminya. Uang yang tak cukup untuk menyambung hidup. Sudah dua kali Idul Fitri anaknya tak juga pulang dan menjenguk orang tuanya yang sakit. Ingin sekali orang tua itu melihat kedua anak perawannya pulang ke rumah. Memeluknya dengan cinta dan kasih sayang yang hangat. Namun, semua itu kini hanya menjadi awang-awang. Mereka lelah menantikan kedua anak perawannya yang mencari uang di Surabaya.
Untuk membuat dapurnya tetap mengepul, Mbok Pinah bekerja sebagai pencari kayu bakar. Tempatnya di hutan yang cukup jauh dari Desa Karangwungu. Kayu bakar itu dijual kepada penduduk kampung sebelah. Untuk dapat mencapai hutan itu, dia harus berjalan menyusuri rawa-rawa dengan gestur tanah yang gembur. Juga, masih ada bengawan atau sungai. Penyebutan itu mungkin timbul karena aliran sungai juga merupakan aliran anak Sungai Bengawan Solo. Selain mencari kayu bakar, Mbok Pinah juga membuat arang dari batok kelapa. Nantinya, arang itu dijual kepada pedagang sate yang tersebar di sekitar Telon Semlaran, Lamongan.
Kesulitan dan kerasnya hidup tak membuatnya menyerah. Dia masih semangat menyongsong hari esok. Dari raut wajahnya yang keriput, masih terlihat jelas bara api yang menyala-nyala. Sisa-sisa kecantikannya masih tampak meskipun keriput tersebar di sana-sini. Umurnya yang sekitar 60 tahun bukan halangan untuk tetap menerobos kejamnya kehidupan.
Tak ada sesal sedikit pun di wajahnya mengenai nasib bersuami lelaki tua yang lumpuh. Dia masih tegar dan setia kepada sang suami. Bukan karena hasratnya yang kalah oleh umur, namun karena kesetiaan yang sampai pada tahap ma’rifat.
Suatu hari, Wak Suto mengalami kejang-kejang yang sungguh dahsyat. Hingga ranjang yang menahan berat tubuhnya serasa mau ambruk. Serentak rumah mereka didatangi oleh para tetangga yang datang memastikan kabar itu. Salah seorang di antara tetangga itu kembali memanggil "orang pinter."
Orang yang sama seperti enam tahun lalu ketika Wak Suto tak sadarkan diri akibat stroke. Sama seperti enam tahun lalu, "orang pinter" itu kembali membacakan mantra-mantra yang ditujukannya pada telinga Wak Suto.
Kali ini mantranya tak semanjur enam tahun yang lalu. Wak Suto masih kejang-kejang. Karena mantranya gagal, dia pun kembali mengulangi pembacaan mantra dengan suara agak keras. Namun, tetap dengan nuansa mistis dan khidmat. Kejang Wak Suto pun sedikit reda. Kecemasan dan kesedihan Mbok Pinah ikut-ikutan reda. Setelah seluruh kejang Wak Suto mereda, dia pun mengeluarkan suara. Suara yang terdengar berat.
"Pinah, istriku, jika aku mati…" suaranya terhenti sejenak. Dia mengumpulkan tenaga untuk meneruskan suaranya. "Jika aku mati, hendaklah engkau menyusulku. Percuma engkau hidup, anak-anak kita tak akan peduli pada orang tuanya yang telah melahirkan dan membesarkannya."
Tak hanya Mbok Pinah, para tetangga pun kaget mendengar perkataan Wak Suto. Lalu Wak Suto meneruskannya. "Aku ngomomg begini bukan karena kedonyan. Tapi aku merasa itulah yang terbaik untukmu, juga untuk kita," ujarnya. Tak ada yang menanggapi. Semua yang mendengarkan hanya membisu dan mematung.
Air mata meleleh lembut dari mata Mbok Pinah. Selembut hatinya merelakan kepergian sang suami untuk selamanya. Arwah Wak Suto terbang entah ke mana. Yang tinggal hanya jasad yang kurus kering tergolek di kasur lusuh itu. Tugasnya untuk melihat dunia dan "numpang minum" telah selesai dijalani.
Mendengar kematian Wak Suto, hampir seluruh penduduk kampung memberikan seserahan apa adanya. Ada yang memberikan gula, ketan, kopi, beras, juga ada yang memberikan uang kepada janda baru itu, Mbok Pinah. Tak heran bila penduduk kampung begitu solidaritas kepada sang kawan yang pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.
Wak Suto terkenal baik dan ramah. Tak ada satu musuh pun yang dimiliki. Justru kawan yang banyak. Bahkan, dari kampung sebelah pun dia juga banyak memiliki kawan.
Prosesi pemandian dan penguburan Wak Suto telah menyedot perhatian seluruh penduduk kampung. Seluruh warga bergotong royong mengantarkan kepergian Wak Suto ke tempat pengistirahatan yang terakhir. Juga malam harinya, tahlil untuk mengiringi kepergiannya dihadiri oleh penduduk kampung dan para sesepuh serta petinggi desa. Para tetangga perempuan sibuk di dapur membuat dan menyuguhkan makanan untuk para jamaah tahlilan. Semua biaya untuk melakukan hajatan itu didapati dari para tetangga-tetangga. Mbok Pinah tak sedikit pun mengeluarkan uang. Bukan karena tak punya uang, namun karena rasa kekeluargaan yang begitu luhur di antara penduduk desa.
Tahlilan sudah sampai pada malam ketiga. Namun, kedua anak perawannya tak juga kunjung pulang. Padahal, mereka sudah dikirimi kabar melalui SMS oleh petinggi desa. SMS itu juga telah dibalas oleh mereka.
"Kami akan segera pulang. Secepatnya." Begitulah balasan yang diterima petinggi desa dari kedua anak perawan Mbok Pinah dan almarhum Wak Suto. Kata "secepatnya" adalah penekanan bahwa mereka pasti datang dengan segera. Namun, hingga hari ketiga tahlilan mereka tak juga pulang ke rumah.
Malam ketiga tahlilan itu membukakan mata dan hati para penduduk kampung. Mereka menyaksikan sebuah peristiwa yang sungguh menyentuh lubuk hati sedalam-dalamnya. Mbok Pinah yang juga ikut membacakan tahlil dengan lembut pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Mbok Pinah pergi untuk selamanya dengan keadaan duduk sambil memegang buku tahlilan.
Menyaksikan kejadian itu aku hanya bisa duduk bersila mematung. Nagasari yang tinggal satu gigitan lagi tak juga aku makan. Aku diliputi rasa merinding sedalam-dalamnya. Alam pikiranku mengembara pada peristiwa ketika ajal menjemput Wak Suto. Di telingaku terngiang-ngiang suara Wak Suto: "Jika aku mati, hendaklah engkau menyusulku."
Amanat Wak Suto sebelum mati telah dilaksanakan oleh istrinya. Mbok Pinah pergi menyusul. Kini mereka kembali bertemu. Hidup bersama kembali. Penuh kedamaian. Semoga. Suara Wak Suto yang terngiang di telingaku telah hilang ditelan hiruk-pikuk yang menyelimuti rumah itu. Salah seorang sesepuh desa yang duduk di sebelahku mengeluarkan suara. Suaranya terdengar lirih namun penuh keyakinan.
"Ternyata… di dunia yang penuh dengan kepura-puraan ini, cinta mati benar-benar ada…"

0 komentar:

Poskan Komentar